Ekonomi Dunia Terancam: Wang Yi Desak AS Pilih Jalan Damai atau Konflik



KONTAN.CO.ID - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, memperingatkan agar Amerika Serikat tidak mengambil langkah “reaktif dan emosional” untuk menjauh dari China. Ia menilai, meski belakangan muncul sejumlah sinyal positif dari Gedung Putih, masih ada suara-suara di AS yang justru merusak hubungan kedua negara.

Reuters melaporkan, berbicara dalam Konferensi Keamanan Munich, Wang Yi mendorong Washington untuk mengadopsi kebijakan yang “positif dan pragmatis”. Menurutnya, hasil terbaik bagi kedua negara adalah kerja sama, bukan konfrontasi.

Wang Yi juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada Jumat. Seorang pejabat AS menyebut pertemuan itu berlangsung “positif dan konstruktif”. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada April mendatang.


Setelah setahun diwarnai ketegangan terkait perdagangan dan kebijakan tarif, Amerika Serikat dan China kini berupaya memperbaiki hubungan. Wang Yi mengatakan Beijing menyambut baik pernyataan terbaru dari Gedung Putih yang menunjukkan “rasa hormat terhadap Presiden Xi Jinping dan rakyat China”.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa semakin khawatir terhadap ketergantungan mereka pada China, terutama untuk bahan baku dan komponen penting dalam rantai pasok manufaktur. Seruan untuk mengurangi ketergantungan tersebut pun semakin menguat.

Baca Juga: Ekonomi Jepang Hanya Tumbuh Tipis 0,2% di Kuartal IV-2025, Jauh dari Proyeksi Pasar

Wang Yi menilai, ada pihak-pihak di AS yang “melakukan segala cara untuk menyerang dan mendiskreditkan China”. Ia menyebut, hubungan bilateral kini berada di persimpangan dengan dua kemungkinan arah.

Pertama, Amerika Serikat dapat memahami China secara rasional dan objektif, lalu menerapkan kebijakan yang positif dan pragmatis.

Kedua, memilih untuk memutus keterkaitan ekonomi dan rantai pasok dengan China serta menentang China secara menyeluruh dengan pendekatan emosional dan reaktif.

Ia juga memperingatkan bahwa upaya memisahkan Taiwan dari China dan melanggar “garis merah” Beijing berpotensi mendorong kedua negara ke arah konflik.

Tonton: AS Siapkan Serangan Besar dan Jangka Panjang ke Iran! Ancaman Baru di Tengah Negosiasi Jenewaa

“China tentu berharap pada skenario pertama, dan saya yakin Anda juga menginginkan hal yang sama. Namun China siap menghadapi berbagai risiko,” ujar Wang Yi.

Selanjutnya: ESG Perbankan: Kredit Keberlanjutan Menjadi Pendorong Baru Pertumbuhan

Menarik Dibaca: Promo Superindo Weekday 16-19 Februari 2026, Kanzler-Sirup Marjan Diskon Besar!