KONTAN.CO.ID – BENGALURU. Pertumbuhan ekonomi India diperkirakan mulai kehilangan momentum. Produk domestik bruto (PDB) India diproyeksikan tumbuh 7,1% secara tahunan pada kuartal II-2026, melambat dari 7,8% pada kuartal sebelumnya. Proyeksi tersebut berdasarkan jajak pendapat
Reuters terhadap 58 ekonom pada 17-24 Agustus. Jika terealisasi, India masih menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di antara negara-negara ekonomi utama dunia. Perlambatan terutama dipicu investasi swasta yang belum menunjukkan penguatan secara luas dan berkelanjutan. Sebaliknya, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah masih menjadi penopang utama ekonomi India.
Pemangkasan tarif Pajak Barang dan Jasa (GST) serta pajak penghasilan yang dilakukan tahun lalu juga masih memberikan ruang bagi pendapatan rumah tangga. Kondisi tersebut membantu menjaga konsumsi di tengah tekanan inflasi. Namun, prospek investasi swasta masih menjadi perhatian. Melansir
Reuters (25/8), Principal Economist HDFC Bank Sakshi Gupta mengatakan, pemulihan investasi yang mulai terlihat sejak paruh kedua tahun lalu belum cukup kuat dan merata. Ketidakpastian geopolitik turut membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi kapasitas. Tekanan tersebut semakin besar karena harga minyak mentah berada di atas US$90 per barel.
Baca Juga: Iran Siap Balas Sanksi AS, China dan Rusia Disebut Menolak Tekanan Washington India sangat bergantung pada impor energi. Lebih dari 85% kebutuhan minyak negara tersebut berasal dari luar negeri. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar dan transportasi, sekaligus menekan daya beli rumah tangga dan margin perusahaan. Tekanan terhadap ekonomi juga datang dari pelemahan mata uang rupee. Nilai rupee telah melemah lebih dari 6% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Di sisi lain, ekspor barang dan jasa India masih tumbuh lebih dari 11% secara tahunan pada kuartal II-2026 sehingga memberikan tambahan dukungan bagi pertumbuhan.
Chief Economist Canara Bank Madhavankutty G menilai, investasi swasta belum akan banyak bergerak tanpa kepastian geopolitik. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi India masih akan banyak ditopang belanja modal pemerintah. Para ekonom juga memperkirakan pertumbuhan India akan kembali melambat pada kuartal-kuartal berikutnya. PDB diproyeksikan tumbuh 6,6% pada kuartal III-2026 dan 6,5% pada kuartal IV-2026.
Untuk tahun fiskal 2026/2027, pertumbuhan ekonomi India diperkirakan rata-rata 6,7%, sejalan dengan proyeksi Reserve Bank of India (RBI). Sementara pertumbuhan nilai tambah bruto (GVA) diperkirakan mencapai 7,2%. Di tengah perlambatan tersebut, RBI diperkirakan mempertahankan suku bunga. Para ekonom dalam jajak pendapat
Reuters memperkirakan suku bunga acuan tidak berubah setidaknya selama enam bulan ke depan. Dengan demikian, tantangan India ke depan bukan hanya menjaga konsumsi, tetapi juga memastikan investasi swasta kembali menjadi mesin pertumbuhan. Harga minyak, pelemahan rupee dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang akan menentukan seberapa kuat ekonomi India mempertahankan momentumnya.
Baca Juga: India Ingin Kemasan Keripik dan Soda Diberi Label Peringatan, Industri Melawan