Ekonomi Indonesia Kuartal III-2026 Diproyeksi Tumbuh 5,2%, Ini Tantangannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prasasti Center for Policy Studies memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,2% secara tahunan pada kuartal III-2026, ditopang pemulihan ekspor manufaktur yang mulai menguat.

Namun, lembaga riset tersebut mengingatkan tekanan harga minyak, kenaikan harga pangan, dan kebakaran hutan berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV-2026 mendatang.

Sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,2%–5,4%, dengan batas atas setara target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,4%.


Baca Juga: BNPB Catat Karhutla di Lima Kabupaten Serta Cuaca Ekstrem

Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama, meski momentumnya melemah. Penjualan eceran riil kembali tumbuh 1,3% setelah sempat terkontraksi pada kuartal II-2026 sebelumnya.

Di sisi lain, ekspor manufaktur mulai pulih dan menahan perlambatan. Ekspor industri pengolahan meningkat 16,78% secara tahunan pada September 2026, menurut catatan Prasasti.

Research Director Prasasti Adhi N. Saputro menjelaskan pelemahan rupiah membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global, meski meningkatkan biaya bahan baku dan impor energi.

PMI Manufaktur S&P Global naik dari 52,4 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026, tertinggi sejak Maret 2024, dengan pesanan ekspor baru tumbuh tercepat.

Namun, survei tersebut juga mencatat kenaikan biaya input yang lebih cepat akibat harga bahan bakar, sementara penyerapan tenaga kerja melambat dan investasi domestik masih melemah.

Baca Juga: Ini Deretan Pajak yang Mengintai Kelas Menengah, dari Gaji hingga Belanja

Adhi menilai angka pertumbuhan kuartal ketiga belum sepenuhnya mencerminkan tekanan ekonomi, karena dampak fluktuasi harga minyak, penurunan panen, dan kebakaran hutan membutuhkan waktu untuk merambat.

“Angka kuartal III terlihat solid karena sebagian tekanan belum sepenuhnya merambat ke perekonomian. Ada jeda dari fluktuasi harga minyak, penurunan panen, dan karhutla,” jelas Adhi dalam laporannya, Rabu (4/11/2026). 

Lebih lanjut, Prasasti memperkirakan ekonomi perlu tumbuh sekitar 5,5% secara tahunan pada kuartal IV-2026 agar target pertumbuhan APBN sebesar 5,4% sepanjang tahun dapat tercapai.

Namun, percepatan tersebut menghadapi tekanan bersamaan, mulai dari harga minyak tinggi, potensi penurunan produksi padi akibat El Niño, hingga kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.

Harga minyak mentah Indonesia rata-rata hampir US$ 92 per barel pada Januari–September 2026, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$ 70 per barel.

Prasasti mencatat produksi padi turun 18,3% pada September dan diperkirakan menyusut 16,3% pada Oktober–Desember 2026, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga bahan pokok.

Baca Juga: Kemensos Siapkan Skema Baru PBI-JK

Anggota Board of Advisors Prasasti sekaligus Gubernur Bank Indonesia periode 2003–2008, Burhanuddin Abdullah menambahkan suku bunga kini berperan menjaga kepercayaan di tengah tekanan eksternal.

“Suku bunga bukan lagi sekadar alat pendorong pertumbuhan, melainkan jangkar kepercayaan. Pelonggaran yang terlalu dini bisa memicu tekanan pada rupiah, dan ongkosnya bagi pertumbuhan justru lebih mahal,” tuturnya. 

Senior Economist Prasasti Piter Abdullah bilang pemerintah perlu mengutamakan kebijakan nonfiskal, termasuk relaksasi hambatan dagang non-tarif dan kepastian regulasi untuk memperkuat fondasi pertumbuhan.

Dalam jangka pendek, Piter menilai percepatan penetapan Neraca Komoditas 2027, termasuk kuota impor bahan baku, mendesak agar dunia usaha dapat menyusun rencana operasional.

“Pemerintah dapat memprioritaskan kebijakan non-fiskal, seperti relaksasi hambatan dagang non-tarif dan kepastian regulasi. Dalam jangka pendek, percepatan penetapan Neraca Komoditas 2027, termasuk kuota impor bahan baku, menjadi mendesak,” jelasnya. 

Menurut Piter, kepastian kuota impor bahan baku penting agar dunia usaha dapat menyusun rencana operasional, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru serta Ramadan dan Idul Fitri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News