Ekonomi Inggris Melejit 0,5%, Peningkatan Terbesar Sejak Januari 2024



KONTAN.CO.ID - LONDON. Ekonomi Inggris mengalami lonjakan pertumbuhan pada Februari. Office for National Statistics (ONS) Inggris mengumumkan, Kamis (16/4/2026), produk domestik bruto (PDB) Februari tumbuh 0,5% secara bulanan. Ini merupakan peningkatan terbesar sejak Januari 2024.

Realisasi tersebut lebih baik ketimbang konsensus proyeksi analis, yang memprediksi PDB hanya naik 0,2%. Ini  menunjukkan, kondisi ekonomi Inggris sedikit lebih baik sebelum dimulainya perang Iran.

"Pertumbuhan meningkat lebih lanjut dalam tiga bulan hingga Februari, dipimpin oleh peningkatan yang luas di seluruh sektor jasa," kata Grant Fitzner, Kepala Ekonom ONS, seperti dikutip Reuters, Kamis (16/4/2026).


Baca Juga: Indeks Kospi Capai Level Tertinggi Sejak Februari 2026, Produsen Chip Melonjak

Dengan demikian, sudah tiga tahun berturut-turut ekonomi Inggris tumbuh kuat di kuartal I. Tapi, pola tersebut menimbulkan kecurigaan sejumlah ekonom bahwa proses perhitungan penyesuaian musiman ONS salah arah.

Namun ONS menyangkal hal tersebut. "Kami yakin dengan angka dan proses penyesuaian musiman kami," kata juru bicara ONS, Kamis. ONS menegaskan para ahli statistik telah meneliti masalah ini secara menyeluruh.

Meskipun begitu, Reuters melaporkan, para ekonom menilai Inggris tetap rentan terhadap dampak dari konflik Timur Tengah. Alasannya, negara ini sangat bergantung pada impor energi dan rentan terhadap inflasi yang lebih tinggi daripada negara-negara lain.

Baca Juga: Malaysia Genjot Biodiesel Sawit, Permintaan Diproyeksi Naik 300.000 Ton per Tahun

"Sayangnya, guncangan harga energi terbaru kemungkinan telah menghentikan momentum ini, dengan inflasi di atas target dan pasar tenaga kerja yang melemah kemungkinan akan terjadi lagi tahun ini," kata Fergus Jiminez-England, Associate Economist National Institute for Economic and Social Research.

International Monetary Fund (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris paling dalam, dibanding perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk negara-negara kaya dan besar. Penyebab utamanya adalah perang Iran.

James Smith, ekonom ING, mengatakan, ia masih meragukan apakah ONS telah sepenuhnya memperhitungkan pengaruh periode inflasi tinggi terakhir dalam proses penyesuaian musiman, dan waktu kenaikan harga.

"Dalam tanggapan kami terhadap data Januari, kami menulis bahwa Februari atau Maret dapat mengalami pemulihan yang kuat karena alasan ini," kata Smith.