Ekonomi Iran Ambruk, Inflasi 60% Hantam Kebutuhan Pokok Warga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perekonomian Iran menghadapi gejolak yang semakin serius. Sejak perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni tahun lalu dan Amerika Serikat (AS) melakukan serangan udara terhadap fasilitas nuklir utama Iran, lampu kuning ekonomi Iran menyala. 

Pembicaraan tentang kesepakatan baru antara Iran dan AS pada bulan Februari ini, tidak banyak membantu sentimen bisnis di negara itu. "Investor tidak memikirkan ekspansi atau menciptakan lapangan kerja. Mereka hanya memikirkan untuk menyelamatkan bisnis mereka," kata seorang juru bicara sektor swasta Iran seperti dikutip BBC.

Marjan, warga yang tinggal di Isfahan, kota terbesar kedua di Iran mengaku dulu bisa makan di luar dua kali sebulan. "Sekarang kami tidak bisa. Kami harus menabung uang itu untuk membayar sewa," ujarnya. 


Ketika pemerintah memberlakukan pemadaman internet pada awal Januari sebagai bagian dari penindakan brutal terhadap protes nasional, banyak warga tiba-tiba mendapati diri mereka tanpa penghasilan.

"Bahkan setelah internet kembali, keadaan tidak sama lagi," kata Marjan. 

Ia telah menjual kerajinan kayu dan gantungan kunci melalui Instagram. Ia menjadi salah satu dari ratusan ribu wanita Iran yang mencari nafkah dengan cara itu. "Penjualan kami dulu mencapai 300 juta rial (sekitar $185 di pasar terbuka) per bulan. Sekarang bahkan tidak mencapai 30 juta rial," kata dia. 

Protes muncul sebagai reaksi terhadap biaya hidup yang melonjak dan kebijakan pemerintah yang disalahkan oleh masyarakat atas kesulitan mereka. Situasi ekonomi telah memburuk dalam beberapa minggu sejak protes meletus.

Dua bulan lalu, harga daging sapi seharga 7 juta rial per kg. "Tapi saya membelinya dua hari yang lalu seharga 19 juta rial per kg, lebih dari dua kali lipat," kata Mina, seorang ibu berusia 44 tahun dengan dua anak di Teheran. 

Angka resmi menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir, harga kebutuhan pokok telah meningkat rata-rata 60%. Sementara harga makanan telah berlipat ganda dalam periode yang sama.

Dan bukan hanya tahun lalu. Biaya rata-rata keranjang makanan keluarga saat ini delapan kali lipat dari lima tahun lalu dan lebih dari 30 kali lipat dari tahun 2016.

Sejak Mei 2018, ketika Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran dan memberlakukan kembali sanksi yang luas terhadap negara tersebut, mata uang Iran telah kehilangan lebih dari 95% nilainya terhadap dolar AS di pasar terbuka.

Penurunan nilai rial yang cepat memicu protes di pasar Teheran pada akhir Desember, yang segera menyebar ke seluruh negeri. Protes tersebut ditindas secara brutal oleh pasukan keamanan, yang menewaskan ribuan orang.

Sejak saat itu, nilai rial terus menurun, mendorong harga semakin tinggi.