KONTAN.CO.ID - Ekonomi Jepang tumbuh lebih lambat dari perkiraan pada kuartal II-2026. Pertumbuhan ekonomi tertekan oleh lemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis, meski ekspor masih menunjukkan kinerja positif. Mengutip
Reuters, Senin (17/8/2026), produk domestik bruto (PDB) Jepang tumbuh 1,1% secara tahunan (annualised) pada periode April-Juni 2026.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Sideways, Investor Waspadai Harga Minyak di Tengah Perang Teluk Angka tersebut jauh di bawah perkiraan median ekonom dalam jajak pendapat Reuters sebesar 2%, serta melambat dari pertumbuhan kuartal sebelumnya yang telah direvisi naik menjadi 1,9%. Secara kuartalan, ekonomi Jepang tumbuh 0,3%, juga di bawah perkiraan pasar sebesar 0,5%. "Pertumbuhan memang positif, tetapi rinciannya sedikit lebih lemah dari perkiraan," kata Kazutaka Maeda, Senior Economist Meiji Yasuda Research Institute. Meski demikian, Maeda menilai pelemahan tersebut kemungkinan dipengaruhi faktor sementara. Karena itu, data terbaru belum tentu menunjukkan pelemahan ekonomi yang berkelanjutan atau mengubah waktu kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), yang secara luas diperkirakan dapat dilakukan paling cepat pada September.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Datar Senin (17/8) Pagi, Brent ke US$ 88,72 Konsumsi dan Investasi Melemah Konsumsi swasta yang menyumbang lebih dari separuh output ekonomi Jepang tercatat stagnan pada kuartal II. Capaian tersebut jauh di bawah perkiraan pasar yang memproyeksikan pertumbuhan 0,5%. Konsumsi rumah tangga dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kebijakan pendidikan gratis dan kenaikan harga tembakau. Tren konsumsi dan upah menjadi perhatian utama BOJ dalam menilai kekuatan ekonomi Jepang serta menentukan kebutuhan untuk kembali menaikkan suku bunga. Sementara itu, belanja modal yang menjadi salah satu pendorong utama permintaan domestik swasta turun 1,2% pada kuartal II. Angka tersebut berbanding terbalik dengan perkiraan pasar yang memproyeksikan pertumbuhan 0,4%.
Baca Juga: Yen Menguat Tipis Senin (17/8), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mulai Surut Ekonomi Masih Dinilai Tangguh Yoshiki Shinke, Senior Executive Economist Dai-ichi Life Research Institute, mengatakan pelemahan konsumsi sebagian disebabkan faktor satu kali, termasuk pergeseran pengeluaran ke konsumsi pemerintah melalui kebijakan seperti program makan siang sekolah gratis. Penurunan belanja modal juga kemungkinan dipengaruhi gangguan dan ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah. Namun, faktor tersebut mulai mereda dan rencana investasi perusahaan masih relatif kuat. "Secara keseluruhan, saya pikir kita dapat mengatakan bahwa ekonomi tetap tangguh meskipun pertumbuhan lebih lambat dari perkiraan," ujar Shinke. Permintaan eksternal bersih, yang merupakan selisih antara ekspor dan impor, memberikan kontribusi 0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang. Ekspor tetap kuat berkat permintaan dari Amerika Serikat (AS) terhadap kendaraan hybrid Jepang serta berlanjutnya investasi global di sektor kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut menopang pengiriman peralatan dan komponen yang berkaitan dengan semikonduktor.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Jepang Periode April-Juni Lebih Lambat dari Perkiraan Risiko Inflasi dan Pelemahan Konsumsi
Ke depan, para ekonom memperingatkan kenaikan biaya impor dan tekanan harga dari sisi hulu berpotensi diteruskan kepada konsumen. Kondisi tersebut dapat menekan konsumsi pada akhir tahun. Konsumsi swasta juga berpotensi melemah pada kuartal III-2026 setelah perubahan kebijakan dan regulasi sebelumnya mendorong peningkatan sementara permintaan terhadap barang tahan lama seperti mobil dan pendingin udara pada kuartal II. Survei Japan Center for Economic Research pada bulan ini menunjukkan 37 ekonom memperkirakan pertumbuhan PDB Jepang pada kuartal III hanya sekitar 0,05% secara tahunan. Data tersebut menjadi perhatian bagi BOJ dalam menentukan arah kebijakan moneter berikutnya, terutama di tengah ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga pada September.