KONTAN.CO.ID - Ekonomi Jepang tumbuh lebih cepat dari perkiraan awal pada kuartal II 2026. Produk domestik bruto (PDB) Jepang tumbuh 1,4% secara tahunan (
annualised) pada periode April-Juni 2026, didukung belanja modal perusahaan yang tidak selemah estimasi awal. Melansir
Reuters, data revisi yang dirilis Cabinet Office Jepang pada Selasa (8/9/2026) menunjukkan pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi awal sebesar 1,1%. Namun, angka tersebut masih di bawah proyeksi median ekonom yang memperkirakan pertumbuhan 1,6%.
Baca Juga: Harga Gandum Melonjak, Konflik Laut Hitam Kembali Ganggu Pasokan Jika dihitung tanpa annualisasi, ekonomi Jepang tumbuh 0,4% secara kuartalan. Angka ini sesuai dengan perkiraan ekonom dan meningkat dari estimasi awal sebesar 0,3%. Belanja modal perusahaan menjadi salah satu faktor utama revisi pertumbuhan tersebut. Investasi perusahaan turun 0,9% pada kuartal II, tetapi penurunannya lebih kecil dibandingkan estimasi awal yang mencapai 1,2%. Ekonom sebelumnya memperkirakan belanja modal turun 0,8%. Sementara itu, konsumsi swasta yang menyumbang lebih dari separuh aktivitas ekonomi Jepang tercatat stagnan. Angka tersebut tidak berubah dari data awal. Pasar Bersiap Hadapi Keputusan BOJ Perhatian investor kini beralih ke keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ) pada pekan depan. Pasar secara luas memperkirakan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga pada September. Namun, investor mencermati bagaimana konflik Timur Tengah dan kenaikan suku bunga sebelumnya akan mempengaruhi prospek ekonomi Jepang.
Baca Juga: Anthropic Batalkan Rencana Akuisisi Startup AI Decart Senilai US$6 Miliar Revisi pertumbuhan PDB tersebut sejalan dengan data belanja modal yang dirilis pekan lalu. Data tersebut menunjukkan perusahaan Jepang meningkatkan belanja untuk pabrik dan peralatan sebesar 1,6% pada kuartal II dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, data upah yang dirilis Selasa menunjukkan upah riil Jepang yang telah disesuaikan dengan inflasi meningkat 2,4% secara tahunan pada Juli. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar sejak Mei 2021 sekaligus memperpanjang pertumbuhan upah riil menjadi tujuh bulan berturut-turut. BOJ telah menaikkan suku bunga kebijakannya menjadi 1% pada Juni, level tertinggi dalam 31 tahun.
Namun, bank sentral Jepang masih menghadapi tekanan untuk menaikkan biaya pinjaman lebih lanjut di tengah tekanan harga yang dipicu perang AS-Iran serta tren pelemahan yen.
Baca Juga: Iran Ancam Buat Zona Eksklusi di Teluk, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas Data Tokyo Tanshi menunjukkan pasar swap memperkirakan peluang sebesar 98% bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada pertemuan September. Pasar juga sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya menjadi 1,5% pada pertemuan BOJ Januari mendatang.