Ekonomi Jepang Tumbuh Solid di Kuartal I, Tetapi Terancam Dampak Perang Iran



KONTAN.CO.ID - Ekonomi Jepang tumbuh lebih kuat dari perkiraan pada kuartal pertama 2026, ditopang ekspor dan konsumsi domestik yang solid.

Namun, momentum tersebut diperkirakan menghadapi tekanan besar akibat lonjakan harga energi imbas perang Iran yang mulai membebani dunia usaha dan konsumen.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Selasa (19/5) Pagi, Brent ke US$ 109,09 & WTI ke US$ 107,28


Melansir Reuters mengacu data pada Selasa (19/5/2026) menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) riil Jepang tumbuh 2,1% secara tahunan (annualized) pada kuartal I-2026.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding proyeksi median pasar sebesar 1,7% dan pertumbuhan revisi 0,8% pada kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Jepang selama dua kuartal berturut-turut ditopang oleh ekspor yang kuat.

Permintaan eksternal bersih tercatat menyumbang 0,3 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, konsumsi rumah tangga dan belanja modal masing-masing tumbuh 0,3% dibanding kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Trump Tunda Rencana Serangan ke Iran, Sinyalkan Peluang Kesepakatan Nuklir

Hal itu menunjukkan laba korporasi yang kuat dan kenaikan upah masih menopang pemulihan ekonomi Jepang.

Ekonom senior Dai-ichi Life Research Institute Yoshiki Shinke mengatakan, data tersebut menunjukkan ekonomi Jepang berada dalam kondisi cukup solid sebelum dampak perang Iran sepenuhnya dirasakan.

“Data hari ini menunjukkan ekonomi berada di pijakan yang cukup kuat sebelum perang Iran, sehingga masih memiliki bantalan untuk menghadapi guncangan energi,” ujarnya.

Meski demikian, ia memperingatkan ekonomi Jepang berpotensi kembali terkontraksi pada kuartal kedua jika gangguan pasokan energi memburuk.

“Jika terjadi gangguan pasokan besar, dampaknya terhadap pertumbuhan bisa sangat parah sehingga Bank of Japan mungkin tidak memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada Juni,” katanya.

Analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang akan melambat pada kuartal-kuartal berikutnya akibat lonjakan biaya energi dan meningkatnya ketidakpastian global.

Baca Juga: OpenAI Menang Lawan Elon Musk, Jalan IPO US$ 1 Triliun Kian Mulus

Lembaga riset Oxford Economics menilai kenaikan harga energi akan membatasi konsumsi dan investasi dalam jangka pendek.

Konflik Iran telah memicu gangguan serius di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, sehingga mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi global.

Jepang dinilai sangat rentan terhadap guncangan energi karena ketergantungannya yang tinggi terhadap impor minyak dari Timur Tengah.

Kenaikan harga bahan bakar berisiko mendorong inflasi sekaligus menekan laba perusahaan dan daya beli masyarakat.

Perubahan kondisi ekonomi tersebut juga memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter. Sebelumnya, pasar memperkirakan Bank of Japan berpeluang menaikkan suku bunga pada Juni menyusul sinyal hawkish dari bank sentral.

Di sisi lain, pemerintah Jepang disebut tengah menyiapkan anggaran tambahan untuk mendanai subsidi energi guna meredam dampak lonjakan harga bahan bakar terhadap perekonomian.