Ekonomi Karbon Mulai Ubah Arah Bisnis Global, Indonesia Punya Peluang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan menuju ekonomi rendah karbon mulai memengaruhi arah ekosistem bisnis global. Karbon, air, biodiversitas hingga jasa ekosistem kini semakin diperhitungkan sebagai bagian dari nilai ekonomi, tidak hanya sekadar aspek lingkungan.

Founder & CEO PT Visi Carbon Indonesia (VCarboN) Heppy Trenggono mengatakan, perubahan tersebut membuat sumber daya alam tidak lagi hanya dilihat dari komoditas yang dapat diekstraksi, tetapi juga dari nilai ekonomi yang muncul ketika ekosistem alam tetap terjaga.

"Dunia mulai membayar bukan hanya apa yang kita ambil dari alam, tetapi apa yang berhasil kita jaga," kata Heppy dalam keterangan resminya, Minggu (9/8/2026).


Menurut dia, ekonomi karbon tidak lagi sebatas isu lingkungan. Perkembangan carbon pricing, perdagangan berbasis intensitas karbon, aliran modal, regulasi, teknologi hingga konsep natural capitalmulai menjadi bagian dari perubahan struktur ekonomi global.

Baca Juga: Indonesia Gandeng Rubicon Carbon, Garap Proyek Karbon Biru 70.000 Hektare

Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia mengingat negara ini memiliki sumber daya alam berupa hutan, gambut dan mangrove. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola serta sumber daya manusia agar dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi.

Heppy mengatakan pengembangan ekonomi karbon membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu. Pengalaman VCarboN dalam mengembangkan proyek karbon berbasis mangrove dan peatland di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa satu proyek karbon dapat melibatkan keahlian mulai dari kehutanan, hidrologi, ekologi, GIS, hukum, ekonomi dan keuangan hingga remote sensing, kecerdasan buatan (AI), biodiversitas, pemberdayaan masyarakat, MRV dan investasi.

"Di lapangan kami menemukan bahwa ekonomi karbon tidak mungkin dibangun oleh satu disiplin ilmu. Satu proyek karbon mempertemukan begitu banyak keahlian," ujarnya.

Menurut Heppy, kondisi tersebut membuat perguruan tinggi memiliki peran dalam pengembangan ekonomi karbon, khususnya melalui riset dan pengembangan sumber daya manusia.

Baca Juga: MUTU Kantongi Dana Rp 30 Miliar dari Private Placement, Bidik Ekspansi Bisnis Karbon

Hal tersebut turut membuka peluang kolaborasi antara Universitas Brawijaya (UB) dan VCarboN dalam pengembangan ekonomi karbon, natural capital, teknologi iklim, riset dan pengembangan talenta.

Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo mengatakan, ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan mencakup riset terapan, carbon data dan MRV, remote sensing dan AI, natural capital, biodiversitas, hingga pengembangan talenta.

"Ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan antara lain riset terapan, carbon data dan MRV, remote sensing dan AI, natural capital, biodiversitas, pengembangan talenta, serta keterlibatan akademisi dan mahasiswa dalam penelitian dan pembelajaran berbasis persoalan nyata di lapangan," kata Widodo.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kapasitas riset akademik dengan pengalaman implementasi proyek karbon berbasis alam di lapangan.

Heppy menilai, peluang Indonesia dalam ekonomi karbon tidak hanya ditentukan oleh besarnya kekayaan alam yang dimiliki. 

Kemampuan mengembangkan teknologi, ilmu pengetahuan, tata kelola dan sumber daya manusia juga akan menentukan seberapa besar nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari sumber daya tersebut.

"Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menjadi salah satu kekuatan penting dalam ekonomi baru dunia," ujarnya.

Baca Juga: Menhut Beberkan Kesiapan Indonesia Jelang Rilis Resmi Pasar Karbon pada Juli 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News