KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan diperkirakan melambat pada kuartal II 2026. Pelemahan permintaan domestik diperkirakan menjadi faktor utama. Kondisi tersebut diyakini akan benar-benar terjadi, meski ekspor semikonduktor terus melonjak berkat tingginya permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan survei
Reuters terhadap 24 ekonom yang dirilis pada Selasa (21/7), produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan diperkirakan hanya tumbuh 0,4% secara kuartalan (
quarter-on-quarter/qtq) pada periode April-Juni 2026.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 1,8% pada kuartal I 2026, yang menjadi pertumbuhan kuartalan tertinggi dalam hampir enam tahun terakhir.
Baca Juga: Indonesia Siapkan Panda Bond Perdana di Pasar China, Gandeng Bank of China Permintaan Domestik Melemah
Para ekonom menilai perlambatan ekonomi Korea Selatan terutama dipicu oleh melemahnya konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi domestik. Di sisi lain, kinerja ekspor yang masih kuat belum mampu memberikan dampak yang merata terhadap seluruh sektor ekonomi. Ekonom Standard Chartered Korea, Park Jong-hoon, mengatakan kondisi tersebut mencerminkan pola pertumbuhan berbentuk
K-shaped growth, yaitu ketika sebagian sektor tumbuh pesat sementara sektor lainnya masih tertinggal. "Karena itu, pola pertumbuhan ekonomi saat ini sangat menyerupai
K-shaped growth. Kondisi tersebut membatasi dampak positif dari kuatnya siklus industri chip terhadap perekonomian secara keseluruhan," ujar Park, seperti dikutip
Reuters.
PDB Tahunan Diperkirakan Ikut Melambat
Selain secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi Korea Selatan juga diperkirakan sedikit melambat secara tahunan. Berdasarkan median proyeksi 29 ekonom dalam survei
Reuters, PDB Korea Selatan diperkirakan tumbuh 3,5% secara tahunan (
year-on-year/yoy) pada kuartal II 2026. Angka itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,8% pada kuartal sebelumnya. Kementerian Keuangan Korea Selatan memperkirakan ekonomi negara itu akan tumbuh 3,0% tahun ini, meningkat dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,0%. Sementara itu, survei
Reuters memperkirakan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan rata-rata mencapai 2,8% pada 2026.
Baca Juga: Baht Thailand Melemah Paling Dalam, Mayoritas Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Semikonduktor dan AI Jadi Harapan
Sektor ekspor tetap menjadi mesin utama perekonomian Korea Selatan. Pada Juni 2026, nilai ekspor negara itu meningkat sekitar 71%, menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam hampir 50 tahun. Lonjakan tersebut didorong oleh meningkatnya investasi global pada teknologi AI yang membuat ekspor semikonduktor melonjak hampir 200% menjadi US$ 44,8 miliar. Sepanjang semester pertama 2026, Korea Selatan juga membukukan surplus perdagangan sebesar US$ 138,3 miliar. Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, menilai perlambatan pada kuartal II belum mengubah prospek ekonomi Korea Selatan secara keseluruhan. "Secara keseluruhan, ekonomi Korea Selatan masih berada di jalur untuk mencatat pertumbuhan lebih dari 3% sepanjang tahun. Pendorong utamanya adalah meningkatnya permintaan terkait AI, yang mulai memberikan dampak positif ke sektor ekonomi lainnya," ujarnya.
Prospek ekonomi yang masih cukup kuat juga mendorong Bank of Korea (BoK) menaikkan suku bunga acuan pada 16 Juli lalu. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama dalam tiga setengah tahun terakhir. Gubernur Bank of Korea, Shin Hyun Song, mengatakan keputusan tersebut didukung oleh perkembangan yang positif pada tiga aspek utama, yakni pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan stabilitas sistem keuangan. Survei
Reuters yang dilakukan sebelum rapat kebijakan juga menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan Bank of Korea masih akan menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi sebelum akhir 2026.
Baca Juga: Samsung Bentuk Divisi Robotika, Rekrut Eks Eksekutif Hyundai untuk Pimpin Strategi