Ekonomi Kuartal III-2026 Melaju di Atas Ekspektasi, Manfaat Pertumbuhan Belum Merata



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 mencapai 5,47% secara tahunan (year on year/yoy). Capaian ini sedikit mengejutkan, karena jauh di atas konsensus ekonom yang memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 hanya akan tumbuh 5,2%.

Seperti kuartal-kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi dengan total kontribusi mencapai 82,78% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud mengatakan, seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif pada kuartal III 2026.


Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi komponen dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni mencapai 51,97%, dengan pertumbuhan sebesar 5,04% yoy.

Baca Juga: Arus Dana Asing Terancam, Indonesia Berupaya Jawab Kekhawatiran MSCI

Selain itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi memberikan kontribusi sebesar 30,81% terhadap PDB, dengan pertumbuhan sebesar 6,06%.

"Dari sisi pengeluaran pada triwulan III tahun 2026 secara year on year, seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif," ujar Edy dalam konferensi pers, Kamis (5/11/2026)

Konsumsi atau belanja pemerintah menyumbang 7,28% terhadap PDB, dengan pertumbuhan 8,95% yoy sekaligus menjadi komponen pertumbuhan tertinggi dibandingkan komponen lainnya pada kuartal III.

Dari sisi sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 2,62 poin persentase. Selanjutnya, PMTB memberikan sumber pertumbuhan sebesar 1,91 poin persentase.

Sementara itu, untuk konsumsi pemerintah sumber pertumbuhan hanya sebesar 0,62 poin persentase. 

Edy menjelaskan, peningkatan konsumsi pemerintah terutama didorong oleh kenaikan realisasi belanja pegawai, khususnya pembayaran gaji dan tunjangan aparatur sipil negara (ASN). 

"Peningkatan realisasi belanja barang dan jasa yang diserahkan kepada masyarakat di antaranya program Makan Bergizi Gratis atau MBG," ujar Edy.

Baca Juga: Purbaya Masih Rapat, Begini Kronologi Pergantian Menteri Keuangan dan PR Suahasil

Meski seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif, sumber pertumbuhan dari sejumlah komponen justru dibandingkan kuartal II 2026.

Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga memberikan sumber pertumbuhan sebesar 2,68 poin persentase. Angka tersebut turun menjadi 2,62 poin persentase pada kuartal III 2026.

Hal serupa terjadi pada PMTB yang sumber pertumbuhannya turun dari 2,06 poin persentase pada kuartal II 2026 menjadi 1,91 poin persentase pada kuartal III 2026.

Sementara itu, sumber pertumbuhan konsumsi pemerintah juga turun dari 1,07 poin persentase menjadi 0,62 poin persentase pada periode yang sama.

BPS mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga ditopang oleh konsumsi restoran dan hotel yang tumbuh 6,59%. Kenaikan ini seiring dengan meningkatnya konsumsi makanan jadi di rumah makan dan restoran.

Selain itu, konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh 5,83%, didukung mobilitas rumah tangga serta penyelenggaraan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan dan acara olahraga.

Dari sisi investasi, pertumbuhan PMTB didorong oleh subkomponen kendaraan yang tumbuh 12,96%, baik yang berasal dari produksi domestik maupun impor.

Pertumbuhan PMTB tersebut juga sejalan dengan peningkatan realisasi investasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang tumbuh 7,59%.

Belanja Pemerintah Tumbuh

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 ditopang oleh sejumlah komponen, terutama permintaan domestik, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, hingga kinerja industri pengolahan.

Airlangga menyoroti konsumsi pemerintah yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi, yakni 8,95%. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 5,66%. 

Airlangga menjelaskan, peningkatan konsumsi pemerintah tidak terlepas dari percepatan belanja pemerintah pada kuartal II dan III-2026.  

Baca Juga: Debu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Kegiatan Penerbangan, Ekonomi Ikut terdampak

Belanja tersebut turut mencakup pelaksanaan sejumlah program unggulan pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). 

Dari komponen perdagangan, ekspor tumbuh 4,58%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 4,07%.  Sementara itu, impor meningkat 7,31%, terutama untuk memenuhi kebutuhan produksi, investasi, bahan baku, dan barang modal.

Dari sisi investasi, realisasi investasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp 528,7 triliun atau tumbuh 7,6% secara tahunan. Investasi tersebut menyerap tenaga kerja sebanyak 745.634 orang. Sementara itu, investasi hilirisasi mencapai Rp 179,9 triliun atau tumbuh 19,4% secara tahunan.

Manfaat Pertumbuhan Belum Merata

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Afaga Hudaya mengatakan, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal III 2026 masih menyisakan sejumlah persoalan. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tersebut belum dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Afaga, persoalan utama bukan terletak pada perbandingan efek basis rendah (low base effect). Sebab, jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 yang sebesar 5,04% yoy, capaian pada kuartal III 2026 dinilai menunjukkan basis yang normal. 

Hanya saja, kualitasnya pertumbuhan ekonomi belum merata yang membuat sebagian masyarakat masih merasa kondisi ekonominya belum membaik atau justru semakin tertekan. 

"Namun mengapa masyarakat masih merasa bahwa kondisi ekonominya masih tertekan? Hal ini karena pertumbuhan ekonomi belum merata," ujarnya dalam diskusi Indef, Kamis (5/11/2026). 

Baca Juga: S&P Global Rating Pertahankan Peringkat Utang Indonesia, Kondisi Fiskal Jadi Sorotan

Salah satu indikasinya terlihat dari kinerja sektor pertanian yang hanya tumbuh 0,46%. Padahal, sektor ini menampung sekitar 28,20% tenaga kerja nasional.  "Artinya, pekerja yang menjadi kelompok terbesar ini nyaris belum ikut menikmati kue pertumbuhan ekonomi," lanjut Afaga.

kenaikan harga pangan juga menjadi persoalan yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan ekonomi. Afaga mencatat, inflasi pangan masih bergejolak dan mencapai 5,81% pada Oktober 2026. 

Bahkan, harga beras medium sudah berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Menurutnya, kenaikan harga pangan memberikan tekanan lebih besar kepada rumah tangga miskin karena kelompok masyarakat tersebut memiliki porsi pengeluaran untuk makanan yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. 

"Sehingga rumah tangga miskin menjadi kelompok yang paling terpukul ketika harga pangan meningkat," jelasnya.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa menjelaskan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 memang sejalan dengan peningkatan produksi pada sejumlah bisnis manufaktur. 

Akan tetapi, manfaat dari ekspansi ekonomi tersebut memang belum sepenuhnya dirasakan merata oleh sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri padat karya. 

"Kadin Indonesia menyambut positif pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47% pada kuartal III-2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih memiliki daya tahan dan aktivitas ekonomi secara agregat terus berkembang di tengah ketidakpastian global," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (6/11/2026). 

Erwin menilai, geliat perbaikan aktivitas bisnis secara umum disokong oleh kinerja industri manufaktur, perdagangan, serta kuatnya permintaan domestik dan investasi penanaman modal tetap bruto (PMTB).  Erwin menggarisbawahi sejumlah sektor strategis seperti pertanian yang tumbuh 0,46% dan pertambangan 0,91% masih mengalami perlambatan laju pertumbuhan. 

Gencarnya tekanan biaya operasional, logistik, harga bahan baku impor akibat fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga persaingan produk impor menjadi tantangan berat yang harus dihadapi para pelaku usaha kecil dan padat karya. 

"Jadi, angka pertumbuhan 5,47% bukan berarti seluruh perusahaan mengalami peningkatan penjualan atau keuntungan sebesar itu," tegasnya. 

Karenanya, ia mendorong pemerintah untuk memfokuskan tiga prioritas utama guna memperkuat kualitas pertumbuhan ekonomi ke depan. Ketiga poin tersebut yakni menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan daya saing industri, dan memperkuat keberlanjutan UMKM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News