Ekonomi Kuartal III 2026 Tumbuh Tinggi, Prabowonomic Perlu Dibenahi Lagi



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya 5,29% dan melebihi konsensus ekonomi 5,2%. Pertumbuhan yang tinggi menjadi sinyal positif bagi kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto. Namun, ekonom menilai Prabowonomics perlu diperkuat lagi agar pertumbuhan ekonomi merata.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi tersebut pada Kamis (5/11/2026). Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% sepanjang Januari-September 2026.

Penguatan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 terlihat dari kinerja sejumlah sektor produktif. Industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,87% yoy, meningkat dibandingkan kuartal II-2026 sebesar 4,52%.


Sektor ini sekaligus menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dari sisi lapangan usaha dengan kontribusi 1,20 poin persentase.

Selain industri pengolahan, sektor perdagangan tumbuh 7,14% dengan kontribusi 0,94 poin persentase. Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan 6,42% dan memberikan kontribusi 0,62 poin persentase.

Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,03%, mencerminkan peningkatan mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi 2,62 poin persentase. Komponen ini tumbuh 5,04% yoy.

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,06% dengan kontribusi 1,91 poin persentase. Adapun konsumsi pemerintah tumbuh 8,95% dan menyumbang 0,62 poin persentase.

Penguatan investasi juga tercermin dari realisasi penanaman modal pada kuartal III-2026 yang mencapai Rp 528,7 triliun atau tumbuh 7,6% yoy.

Dari jumlah tersebut, investasi pada sektor hilirisasi mencapai Rp 179,9 triliun, meningkat 19,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Lembaga peneliti ekonomi, GREAT Institute menilai pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 memberikan momentum positif bagi arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto atau yang dikenal sebagai Prabowonomics.

Peneliti GREAT Institute, Ani Asriyah, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang melampaui perkiraan menunjukkan kemampuan Indonesia mempertahankan momentum ekonomi di tengah berbagai tantangan.

Menurutnya, penguatan sektor industri pengolahan dan investasi menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan agenda pembangunan pemerintah.

“Pertumbuhan 5,47 persen bukan sekadar melampaui perkiraan banyak ekonom. Capaian ini menunjukkan bahwa perekonomian kita mampu mempertahankan momentum, bahkan mencatat akselerasi yang relatif jarang terjadi pada triwulan ketiga,” ujar Ani.

Baca Juga: Aturan DHE SDA Kembali Direvisi, Begini Efeknya ke Cadangan Devisa

Tantangan daya beli dan kesejahteraan

Meski mengapresiasi pertumbuhan ekonomi, GREAT Institute mengingatkan bahwa peningkatan produk domestik bruto (PDB) perlu diikuti pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,04% yang sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, sektor pertanian hanya tumbuh 0,46% pada kuartal III-2026. Kondisi ini perlu menjadi perhatian mengingat sektor pertanian masih menjadi sumber penghidupan bagi jutaan rumah tangga, khususnya di wilayah perdesaan.

Tekanan harga pangan juga menjadi tantangan bagi daya beli masyarakat. Inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food pada Oktober 2026 tercatat 5,81%, lebih tinggi dibandingkan inflasi umum sebesar 3,23%.

Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk kelas menengah turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.

Penurunan tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah pemerintah dalam memperluas lapangan kerja produktif, meningkatkan pendapatan riil, serta memperkuat mobilitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, penguatan industri dan investasi perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan rumah tangga.

Baca Juga: Cadangan Devisa Indonesia Oktober 2026 Naik Jadi US$ 146,8 Miliar

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 dipertahankan 5,3%-5,6%

Melihat realisasi pertumbuhan ekonomi kumulatif sebesar 5,45% hingga September 2026, GREAT Institute mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 pada kisaran 5,3%-5,6%.

Berdasarkan perhitungan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan, ekonomi Indonesia perlu tumbuh sekitar 4,86% pada kuartal IV-2026 untuk mencapai pertumbuhan tahunan 5,3%.

Sementara itu, untuk mencapai pertumbuhan 5,4%, ekonomi perlu tumbuh 5,25% pada kuartal IV. Target 5,5% membutuhkan pertumbuhan sebesar 5,64%.

Adapun untuk mencapai batas atas proyeksi sebesar 5,6%, ekonomi Indonesia perlu mencatat pertumbuhan sekitar 6,03% pada kuartal IV-2026.

GREAT Institute menilai target pertumbuhan pada kisaran bawah dan tengah masih realistis dicapai tanpa memerlukan akselerasi ekonomi yang terlalu besar. Namun, pencapaian batas atas membutuhkan penguatan aktivitas ekonomi yang lebih tinggi pada akhir tahun.

Tonton: Sukuk Global RI Laris Permintaan Tembus 2,9 Kali Target

Memperkuat Prabowonomics

GREAT Institute menyebut terdapat tiga agenda utama yang perlu diperkuat pemerintah agar pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Pertama, pemerintah perlu memastikan ekspansi industri, hilirisasi, dan investasi semakin terhubung dengan pemasok domestik. Langkah ini penting untuk memperkuat rantai pasok nasional sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal dengan upah yang layak.

Kedua, pemerintah perlu meningkatkan produktivitas sektor pertanian sekaligus menjaga keterjangkauan harga pangan. Dengan demikian, kebijakan ekonomi kerakyatan dapat memberikan manfaat bagi petani sebagai produsen maupun masyarakat sebagai konsumen.

Ketiga, belanja pemerintah dan instrumen investasi negara perlu diarahkan untuk mendorong investasi produktif dari sektor swasta. Upaya tersebut membutuhkan kepastian regulasi, tata kelola yang baik, serta pelaksanaan program pemerintah yang efektif.

Ani menegaskan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47% merupakan perkembangan positif bagi perekonomian nasional. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan aktivitas ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup diukur dari tingginya angka pertumbuhan PDB. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat memperoleh pekerjaan yang lebih baik, harga pangan yang terjangkau, serta kesempatan lebih besar untuk meningkatkan taraf hidup dan masuk ke kelompok kelas menengah.  

Uni Eropa Siapkan US$ 590 Juta untuk Kejar Dominasi Chip AS-China
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News