KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momentum Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 2026 diproyeksikan bakal menjadi penyangga (
buffer) utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tingginya tekanan eksternal. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai konsumsi rumah tangga akan mengalami akselerasi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ia melihat geliat belanja masyarakat pada kuartal ini tetap terjaga meski dibayangi kenaikan harga komoditas energi global.
"Secara historis memang selalu ada akselerasi konsumsi rumah tangga pada kuartal menjelang dan saat Lebaran dibandingkan periode sebelumnya. Tahun ini, saya melihat momentumnya tetap ada, bahkan cenderung sedikit lebih baik dibanding tahun lalu, meskipun tidak terlalu signifikan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (17/3/2026).
Baca Juga: Momen Lebaran 2026, Ekonom Taksir Belanja Masyarakat Turun Akibat Rem Konsumsi Yusuf mengungkapkan, Lebaran kali ini sangat krusial untuk menjaga ritme pertumbuhan ekonomi agar tidak melorot tajam. "Artinya, Lebaran tetap menjadi
buffer bagi pertumbuhan, terutama ketika tekanan eksternal, seperti kenaikan harga minyak global, masih cukup tinggi. Namun, perlu digarisbawahi bahwa ini lebih bersifat
seasonal uplift, bukan perubahan fundamental dalam tren pertumbuhan," tambahnya. Dia membeberkan, beberapa sektor dipastikan bakal meraup berkah dari tingginya mobilitas mudik. Sektor transportasi, baik darat, laut, maupun udara diprediksi menjadi yang paling terdorong. Selain itu, sektor perdagangan ritel khususnya makanan-minuman, fesyen, serta kebutuhan hari raya juga akan mencatat lonjakan penjualan. Sektor pendukung lainnya, seperti akomodasi, pariwisata di daerah tujuan mudik, hingga logistik juga ikut kecipratan sentimen positif. "Jadi, efeknya cukup luas, tetapi memang terkonsentrasi pada sektor berbasis konsumsi dan mobilitas," katanya. Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa efek musiman ini memiliki keterbatasan. Kenaikan harga energi dan inflasi barang masih menjadi hambatan bagi akselerasi pertumbuhan yang lebih tinggi. "Lebaran bisa menjadi penopang jangka pendek karena mendorong konsumsi. Namun, tekanan dari sisi harga energi dan harga barang yang relatif tinggi tetap menjadi
headwind yang menahan akselerasi lebih lanjut," terangnya.
Lebih lanjut, Yusuf mencatat, kebijakan fiskal di awal tahun ini cenderung lebih berani dibandingkan awal tahun lalu yang lebih banyak melakukan penyesuaian belanja.
Baca Juga: Pengusaha Was-Was Defisit di Atas 3%, Singgung Soal Utang dan Kepercayaan Investor "Ketika belanja pemerintah mengalir lebih awal, ia menciptakan
multiplier effect meningkatkan pendapatan, memperkuat konsumsi, dan pada akhirnya memperbesar dampak dari momentum musiman seperti Lebaran. Jadi, efek Lebaran ini lebih ke menjaga momentum agar tidak melambat terlalu dalam, bukan mendorong lonjakan pertumbuhan yang besar," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News