Ekonomi lesu, pasar ponsel tetap nyaring



JAKARTA. Ponsel akan menjadi salah satu produk industri yang mencatat kenaikan penjualan tahun ini. Maraknya investasi berupa pendirian pabrik ponsel beberapa tahun belakangan menjadi salah satu pendukung kenaikan penjualan ponsel tahun ini.

Ignatius Warsito, Direktur Industri Elektronika dan Telematika, Kementerian Perindustrian, memproyeksikan, penjualan ponsel tahun ini bisa mencapai 70 juta unit, atau naik 10% ketimbang penjualan ponsel tahun lalu sekitar 63,5 juta unit.

Sampai dengan 2017 nanti, Warsito yakin, kebutuhan ponsel di Indonesia bisa mencapai 84 juta-90 juta unit. Adapun ponsel yang laris pada tahun 2017 adalah jenis ponsel smartphone, bukan feature phone seperti tahun ini.


Saat ini, sekitar 70% ponsel yang terjual adalah jenis feature phone, sisanya 30% smartphone. "Nanti di tahun 2017, sekitar 70% penjualan ponsel adalah smartphone dan 30% feature phone," kata Warsito, Jumat (5/6).

Warsito menegaskan, kenaikan penjualan ponsel ini berkaitan erat dengan kewajiban membangun pabrik bagi importir yang ingin menjual ponsel di Indonesia. Tak hanya wajib bikin pabrik, produsen ponsel itu juga diminta memproduksi smartphone terbaru berteknologi 4G LTE.

Menurut Warsito, produsen ponsel telah mendapatkan dukungan dari operator seluler yang tengah menyiapkan jaringan smartphone 4G LTE sehingga saat ini saling berlari membangun ekosistem. "Maka, pada tahun 2017 nanti, akan booming smartphone 4G LTE," tandasnya.

Mengacu roadmap pembangunan industri ponsel nasional, pada 2017 nanti, produksi ponsel nasional bisa menyumbang penjualan sebanyak 35 juta unit. Hasil produksi ponsel ini berasal dari beberapa perusahaan ponsel yang sudah membikin pabrik di Indonesia.

Sebagai gambaran, tahun 2014, jumlah impor ponsel mencapai 54,74 juta unit dengan nilai impor sekitar US$ 3,15 miliar. Volume impor ponsel pada tahun lalu turun ketimbang realisasi impor ponsel pada 2013 yang sebanyak 62,03 juta unit.

Ketua Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) Hasan Aula menyebutkan, berkurangnya impor ponsel karena investasi ponsel marak sejak 2013 dan 2014. Hasan bilang, pasar smartphone kini sedang mekar karena pabrik ponsel fokus menggarap ponsel smartphone ketimbang feature phone. "Maka itu, kami berharap pasarnya bisa tumbuh," terang Hasan kepada KONTAN, Minggu (7/6).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News