KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Insight Investments Management (PT IIM) memandang tahun 2026 sebagai periode yang penuh tantangan sekaligus peluang. Ada pun prospek ekonomi domestik Indonesia dinilai tetap solid memasuki 2026, yang mana kondisi ini membuka peluang bagi pasar obligasi dan reksadana saham Memasuki 2026, PT IIM memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi mencapai 5,2%, didorong oleh membaiknya permintaan domestik dan stabilitas makroekonomi. Dari sisi pasar obligasi, hingga akhir September 2025 pemerintah telah menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 710,55 triliun, atau sekitar 79% dari target lelang tahun 2025. Dengan sisa penerbitan sekitar Rp 180 triliun pada kuartal IV, target tersebut dinilai masih sangat manageable.
Kepemilikan SBN terus didominasi oleh investor domestik, mencerminkan keyakinan pasar terhadap stabilitas dan kredibilitas obligasi pemerintah Indonesia.
Baca Juga: Pasar Obligasi Menguat: ICBI Naik, Yield SBN Turun Signifikan “Tingginya likuiditas domestik serta pergeseran alokasi dari SRBI ke SBN menunjukkan bahwa obligasi pemerintah masih menjadi instrumen utama bagi investor dalam menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas global,” kata Direktur PT IIM Camar Remoa, Senin (12/1/2026). Volume obligasi jatuh tempo yang mencapai sekitar Rp 218,9 triliun pada Oktober 2025 berpotensi menyuntikkan likuiditas signifikan ke sistem keuangan. Likuiditas ini diperkirakan akan kembali mengalir ke SBN maupun obligasi korporasi, yang masih menawarkan imbal hasil menarik. Secara global, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan masih stagnan di kisaran 3,2% sejak 2023 hingga 2026. Ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis iklim, serta dampak lanjutan pandemi COVID-19 masih menjadi faktor utama yang menekan outlook ekonomi global. Amerika Serikat dan Eropa sebagai negara maju (developed market) menunjukkan ketahanan yang relatif baik, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sekitar 2% pada 2025 dan diperkirakan melambat menjadi 1,7% , seiring dampak lagging dari kebijakan tarif proteksionis. “Kebijakan tarif Amerika Serikat yang bersifat proteksionis justru meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi berpengaruh negatif terhadap Amerika Serikat sendiri. Dampaknya terhadap aktivitas bisnis dan investasi baru akan semakin terasa ke depan,” jelasnya.
Baca Juga: Obligasi Korporasi Diproyeksi Tetap Ramai pada 2026, Ini Pendorongnya Di sisi lain, negara berkembang (emerging markets) masih menjadi motor pertumbuhan global. India mencatatkan pertumbuhan tertinggi, disusul oleh China dan Indonesia yang menunjukkan tren pertumbuhan relatif solid. Sejalan dengan kondisi ekonomi domestik yang semakin solid tersebut, Camar menilai bahwa tahun 2026 dapat membawa optimisme bagi investor untuk mulai berfokus pada peluang pertumbuhan di pasar saham. Pulihnya daya beli masyarakat diprediksi akan menjadi bahan bakar utama bagi kenaikan kinerja perusahaan-perusahaan di bursa. Camar menilai potensi liquidity easing pada tahun ini—yang distimulasi dari tren penurunan suku bunga serta Quantitative Easing (paket stimulus) di AS—dapat mendorong perbaikan ekspektasi pertumbuhan ekonomi ke depan. Likuiditas yang lebih longgar berpotensi mendorong aliran modal asing (capital inflow) masuk ke bursa domestik, sekaligus meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk reksa dana berbasis saham. Reksa dana berbasis saham semakin menarik dengan potensi pertumbuhan yang atraktif, ditopang oleh valuasi indeks yang masih berada di bawah rata-rata historis lima tahun serta tingkat dividen yield yang relatif tinggi. Dalam konteks tersebut, Reksa Dana Insight SRI-Kehati Likuid (I-SRI Likuid) dapat menjadi salah satu alternatif bagi investor berprofil risiko agresif, mengingat portofolionya terdiri dari saham-saham berlikuiditas tinggi dan berdividen menarik, sejalan dengan karakteristik Indeks SRI Kehati sebagai indeks acuannya.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi Diprediksi Ramai pada Awal 2026, Cermati Pemicunya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News