Ekonomi RI Ditargetkan 6% pada 2027, Industri Plastik Cari Mesin Pertumbuhan Baru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027. Presiden Prabowo Subianto juga menempatkan hilirisasi dan industrialisasi sebagai salah satu dari delapan prioritas dalam RAPBN 2027.

Target tersebut dinilai masih mungkin dicapai. Namun, industri plastik menilai penguatan industri hulu membutuhkan waktu cukup panjang. Sebab sektor hilir perlu menjadi pengungkit pertumbuhan dalam jangka pendek.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan, pembangunan industri petrokimia hulu membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima tahun. Sejumlah proyek yang mulai dibangun sejak 2024 pun masih berada dalam tahap EPC, atau baru memasuki fase awal produksi.


Baca Juga: Industri Mebel RI Bidik Ekspor US$ 6 Miliar, Daya Saing Masih Jadi Tantangan

“Kalau hilirisasi di hulu mungkin agak berat, tetapi harus dilihat juga nanti di sektor hilirnya. Kalau makanan dan minuman bisa dilipatgandakan, 6% kurang sedikit masih bisa tercapai,” ujar Fajar kepada KONTAN, Senin (17/8/2026).

Menurut Fajar, industri makanan dan minuman memiliki keterkaitan kuat dengan industri petrokimia. Karena itu, penguatan sektor tersebut dapat ikut mendorong permintaan industri plastik. Namun, pemerintah perlu menjaga daya beli, ketersediaan bahan baku, logistik, perlindungan pasar dan kepastian hukum.

Di sisi lain, industri plastik masih menghadapi tekanan produk impor, terutama dari China. Sebelumnya, Inaplas menyebut derasnya impor telah menggerus utilisasi pabrik dalam negeri. Kondisi tersebut juga membuat pelaku usaha masih cenderung wait and see dalam melakukan investasi.

Fajar menilai kondisi tersebut membuat agenda reindustrialisasi perlu dipercepat. Pasalnya, sebagian mesin industri sudah berusia tua sehingga membutuhkan peremajaan untuk meningkatkan produktivitas.

Baca Juga: Hilirisasi Diproyeksi Jadi Penopang Utama Target Investasi Rp 2.322 Triliun pada 2027

“Fokus kita sekarang dari sektor industri, pertama harus cari alternatif bahan baku, peremajaan mesin, dan mencari pembiayaan yang murah,” lanjutnya.

Selain makanan dan minuman, kendaraan listrik juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan industri plastik. Fajar menilai produksi komponen EV di dalam negeri dapat meningkatkan permintaan produk plastik.

Sementara itu, industri plastik sebelumnya mengapresiasi sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk keberlanjutan kebijakan harga gas bumi tertentu dan listrik. Namun Inaplas menilai perlindungan pasar domestik tetap perlu diperkuat, agar derasnya impor tidak semakin menekan utilisasi industri dalam negeri.

Dengan demikian, target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 perlu ditopang penguatan industri hilir, peremajaan mesin, bahan baku alternatif, dan pembiayaan murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News