KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2026 mencapai 5,29%
year on year (yoy). Pertumbuhan ini tercatat lebih rendah bila dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61% yoy. Namun meningkat bila dibandingkan kuartal II 2025 yang mencapai 5,12% yoy. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menyampaikan, bila dilihat dari pendorongnya yakni lapangan usaha, seluruh lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif kecuali lapangan usaha di pertambangan.
Baca Juga: BPS Beberkan Penyebab Sektor Pertambangan Terkontraksi 1,64% pada Kuartal II-2026 Lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB yakni industri pengolahan mencapai 4,52% yoy, pertanian 3,80% yoy, perdagangan, konstruksi 6,68% yoy, dan pertambangan namun mengalami kontraksi 1,64% yoy. “Total kontribusi lima lapangan usaha tersebut ke pertumbuhan ekonomi mencapai 63,73% dari total PDB Indonesia,” tutur Edy dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026). Sementara itu, lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi yakni pengadaan listrik dan gas tumbuh 10,81% yoy, didorong oleh peningkatan penjualan listrik untuk hampir seluruh segmen konsumen, utamanya segmen rumah tangga, bisnis, dan industri. Kemudian, penyediaan akomodasi dan makanan minuman tumbuh sebesar 10,60% yoy, didorong oleh peningkatan okupansi hotel dan peningkatan kinerja jasa boga sejalan dengan semakin luasnya jangkauan manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG). Terakhir, sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh sebesar 6,97% yoy, didorong semakin luasnya pemanfaatan jasa telekomunikasi di berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan lainnya.
Baca Juga: PPATK Catat Deposit Judi Bola Piala Dunia Tembus RP 1,02 Triliun Edy menjelaskan, lapangan usaha di bidang pertambangan mengalami kontraksi 1,64% yoy disebabkan oleh pertambangan bijih logam yang terkontraksi sebesar 9,42% akibat penurunan produksi beberapa komoditas tambang seperti bauksit, bijih timah, dan bijih nikel.
“Selain itu juga karena belum pulihnya operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua Tengah, pasca insiden longsor di Desember 2025,” jelasnya. Di sisi lain, Edy menyampaikan, pertambangan batubara dan lignit juga terkontraksi sebesar 1,41% yoy disebabkan oleh penataan kuota produksi
Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan mendorong harga batubara di pasar internasional. Selanjutnya, pertambangan minyak, gas dan panas bumi terkontraksi 2,15% yoy disebabkan penurunan tingkat alamiah produktivitas sumur migas serta minimnya penemuan cadangan minyak dan gas baru. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News