Ekonomi RI Tumbuh 5,47% Lebih Unggul dari Singapura, Malaysia, China Hingga AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama, seperti Singapura, Malaysia, Tiongkok, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat (AS).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 5,4% yoy, Malaysia 5,3% yoy, Tiongkok 4,5% yoy, Korea Selatan 3,4% yoy, hingga Amerika Serikat yang tumbuh 2,1% yoy. 

Di sisi lain Indonesia masih kalah saing dari Vietnam yang pertumbuhan ekonomi tumbuh 10% yoy pada kuartal III 2026.


Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud mengatakan, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) pada Oktober 2026 merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 menjadi 3,1%.

Baca Juga: DPR Pastikan UU Satu Data Indonesia Tak Langgar Perlindungan Data Pribadi

Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang diperkirakan mencapai 3,9%, atau lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Hasil proyeksi IMF tersebut juga menunjukkan inflasi negara berkembang pada 2026 cenderung lebih tinggi dibandingkan kondisi global maupun tahun 2025.

Selanjutnya, Edy menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia tetap tumbuh ditengah ketidakpastian global. perkembangan yang beragam.

"Pertumbuhan ekonomi China dan Vietnam diperkirakan tumbuh menguat dibanding triwulan II 2026. Kemudian ekonomi Amerika Serikat, Malaysia, Singapura dan Korea Selatan pada triwulan III 2026 tumbuh lebih lambat jika dibandingkan triwulan II 2026," ujar Edy dalam konferensi pers, Kamis (5/11/2026).

Lebih lanjut, dalam paparannya Edy menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 sebesar 5,47% yoy ditopang oleh sejumlah komponen pengeluaran. Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar, yakni sebesar 2,62%.

Selanjutnya, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menyumbang 1,91%, konsumsi pemerintah sebesar 0,62%, net ekspor sebesar 0,60%, serta pengeluaran lainnya sebesar 0,28%.

Jika dilihat dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB), konsumsi rumah tangga dan investasi atau PMTB secara keseluruhan menyumbang 82,78% terhadap PDB nasional.

Secara terperinci, konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 51,97% terhadap PDB, sedangkan investasi atau PMTB menyumbang 30,81%. Dari sisi pertumbuhan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04% yoy dan investasi tumbuh 6,06% yoy.

Adapun ekspor berkontribusi sebesar 25,05% terhadap PDB dengan pertumbuhan 4,59% yoy. Sementara itu, konsumsi pemerintah menyumbang 7,28% terhadap PDB dengan pertumbuhan 8,95% yoy. Pertumbuhan konsumsi pemerintah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan komponen pengeluaran lainnya.

Baca Juga: Kerja 1 Jam Seminggu Tak Masuk Pengangguran, Ini Kriteria BPS

Konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) menyumbang 1,25% terhadap PDB dengan pertumbuhan 5,02% yoy.

Di sisi lain, impor masih menjadi komponen pemberat dalam perhitungan PDB dari sisi pengeluaran. Impor memiliki kontribusi sebesar 22,44% dengan pertumbuhan 7,31% yoy.

Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, kontribusi terbesar terhadap PDB nasional berasal dari industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Secara keseluruhan, kelima sektor tersebut memiliki kontribusi sekitar 65,31% terhadap PDB.

Dari sisi sumber pertumbuhan, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026, yakni sebesar 1,20% dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47%.

Sumber pertumbuhan dari sektor lainnya menyumbang 2,22%. Selanjutnya, sektor perdagangan menyumbang 0,94%, konstruksi sebesar 0,62%, serta informasi dan komunikasi sebesar 0,49%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News