KONTAN.CO.ID - Ekonomi Selandia Baru tumbuh 0,2% pada kuartal II 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Meski melambat dari pertumbuhan 0,8% pada kuartal I, capaian tersebut masih lebih baik dari ekspektasi pasar dan menunjukkan ekonomi Negeri Kiwi relatif mampu bertahan di tengah tekanan konflik Timur Tengah.
Baca Juga: Australia Pangkas Migrasi, Mahasiswa Asing Dilarang Bawa Pasangan dan Anak Mengutip
Reuters, data Statistics New Zealand pada Kamis (17/9) menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II melampaui proyeksi ekonom sebesar 0,1%. Capaian tersebut juga lebih tinggi dari perkiraan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) yang sebelumnya memprediksi ekonomi tidak tumbuh. Secara tahunan, PDB Selandia Baru tumbuh 2,6% pada kuartal II. Angka ini juga jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 2,2%. Michael Gordon, ekonom senior Westpac mengatakan, data tersebut menunjukkan ekonomi Selandia Baru relatif mampu bertahan menghadapi dampak konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, meski tetap mengalami tekanan. Menurut dia, data tersebut dapat meredakan kekhawatiran sebagian anggota komite bank sentral mengenai risiko pelemahan pertumbuhan. Namun, indikator inflasi masih akan menjadi faktor penting dalam menentukan kebijakan RBNZ berikutnya.
Baca Juga: Ekspor Singapura Melonjak 46,2% pada Agustus, Booming AI Jadi Pendorong Utama Konstruksi Jadi Penopang Statistics New Zealand menyebutkan hasil pertumbuhan ekonomi kuartal II masih beragam. Hanya sembilan dari 16 sektor industri yang mencatat pertumbuhan. Sektor konstruksi menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan PDB, dengan kenaikan 2,7% pada kuartal II. Sebaliknya, sektor transportasi, pos dan pergudangan menjadi penekan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: IMF: RBA Perlu Siap Naikkan Suku Bunga Jika Inflasi Tetap Tinggi Dolar Selandia Baru merespons positif data tersebut. Mata uang tersebut berada di sekitar US$0,5724, naik dari US$0,5718 sebelum data ekonomi dirilis. Namun, dolar Selandia Baru masih berada di bawah tekanan setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga. Setelah mengalami periode pelemahan yang panjang, ekonomi Selandia Baru mulai menunjukkan tanda-tanda ketahanan. Bank sentral sebelumnya memperkirakan pemulihan ekonomi akan semakin kuat dan meluas. Pada awal September, RBNZ menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%. Kenaikan tersebut menjadi yang kedua secara beruntun, karena inflasi masih berada di atas kisaran target bank sentral. Ekonom Kiwibank menilai, pertumbuhan kuartal II merupakan hasil yang cukup positif, terutama jika mempertimbangkan tekanan akibat kenaikan harga energi dan konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Clearlake Capital Kuasai 100% Chelsea, Todd Boehly Resmi Tinggalkan Klub Namun, mereka mengingatkan bahwa keberlanjutan momentum pertumbuhan hingga akhir tahun masih menjadi pertanyaan. Arah ekonomi Selandia Baru akan sangat bergantung pada apakah momentum yang terbentuk hingga Juni dapat berlanjut. Kinerja ekonomi juga menjadi salah satu isu utama menjelang pemilu Selandia Baru pada 7 November. Pemerintah koalisi sebelumnya terpilih dengan janji untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi, sementara oposisi Partai Buruh mengusung kebijakan untuk mengurangi tekanan biaya hidup bagi kelompok rumah tangga berpendapatan menengah.