Ekonomi Selandia Baru Tumbuh 0,8% pada Kuartal I-2026, Konflik Iran Masih Membayangi



KONTAN.CO.ID - Ekonomi Selandia Baru menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal pertama 2026 dengan pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan, didorong oleh sektor manufaktur.

Namun, dampak konflik di Timur Tengah dan gejolak harga energi masih menjadi faktor utama yang diperhatikan bank sentral dalam menentukan arah kebijakan ke depan.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Aturan FIFA soal Diaspora Ubah Peta Persaingan Tim Nasional


Melansir Reuters, data resmi yang dirilis Statistics New Zealand pada Kamis (18/6/2026) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Selandia Baru tumbuh 0,8% pada kuartal I-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Angka ini sesuai dengan ekspektasi analis.

Secara tahunan, ekonomi Selandia Baru tumbuh 1,5%, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 1,1%.

Kinerja tersebut juga lebih baik dibandingkan kuartal IV-2025 yang direvisi naik menjadi tumbuh 0,5%, dari estimasi sebelumnya sebesar 0,2%.

Statistics New Zealand mencatat sembilan dari 16 sektor industri mengalami peningkatan aktivitas ekonomi selama periode Januari-Maret 2026.

Baca Juga: AS dan Iran Teken Kesepakatan Gencatan Senjata, Trump Tetap Ancam Serangan Baru

Ekonom Senior Westpac Michael Gordon menilai, meskipun pertumbuhan tahunan lebih kuat dari perkiraan, fokus utama bank sentral kemungkinan akan tertuju pada perkembangan ekonomi setelah Maret 2026.

Menurutnya, Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) akan mencermati dampak lonjakan harga bahan bakar akibat konflik Timur Tengah terhadap aktivitas ekonomi, serta apakah penurunan harga minyak belakangan ini dapat meredakan tekanan inflasi.

Selain itu, keberlangsungan kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat juga menjadi faktor penting yang akan dipantau otoritas moneter.

Pasar keuangan tidak banyak bereaksi terhadap data tersebut. Dolar Selandia Baru bergerak relatif stabil, sementara pelaku pasar masih memperkirakan peluang sekitar 80% bahwa RBNZ akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Sebelumnya, RBNZ telah memangkas suku bunga acuan (Official Cash Rate/OCR) sebesar 325 basis poin sejak Agustus 2024 dan mempertahankannya di level 2,25% sejak November 2025.

Baca Juga: Bank Sentral Brasil Pangkas Suku Bunga Lagi, Sinyalkan Peluang Pelonggaran Lanjutan

Pemulihan Masih Rentan

Meski mulai menunjukkan perbaikan, ekonomi Selandia Baru masih menghadapi sejumlah tantangan. Arus migrasi bersih yang melambat, pasar perumahan yang melemah, serta kebijakan fiskal yang ketat masih membebani pertumbuhan ekonomi.

Tingkat pengangguran juga tetap menjadi perhatian. Saat ini angka pengangguran berada di kisaran tertinggi dalam satu dekade terakhir, yang berdampak pada melemahnya kepercayaan konsumen dan menekan belanja rumah tangga.

Baik RBNZ maupun Kementerian Keuangan Selandia Baru memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 akan terdampak oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang sempat memicu lonjakan harga minyak serta meningkatkan ketidakpastian global.

Baca Juga: Saham Inggris Turun Tipis, Investor Menanti Keputusan Bank of England

Sebagai negara yang sangat bergantung pada perdagangan internasional, Selandia Baru ikut menghadapi gangguan rantai pasok dan tekanan biaya energi akibat konflik tersebut.

Di sisi lain, inflasi Selandia Baru saat ini masih berada di level 3,1%, sedikit di atas target RBNZ yang berada pada kisaran 1%-3%.

Kondisi ini membuat bank sentral berada dalam posisi yang tidak mudah, yakni menyeimbangkan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi dengan upaya menahan tekanan inflasi yang berpotensi bertahan lebih lama.