Ekonomi Singapura Makin Moncer, Proyeksi Pertumbuhan 2026 Naik Jadi 5%



KONTAN.CO.ID - Para ekonom menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura pada 2026 menjadi 5%. Namun, di sisi lain, risiko konflik Timur Tengah dan potensi pecahnya gelembung kecerdasan buatan (AI) masih menjadi perhatian utama.

Melansir Reuters Rabu (2/9/2026), berdasarkan survei kuartalan September 2026 yang dilakukan Monetary Authority of Singapore (MAS), median proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura tahun ini naik menjadi 5% dari sebelumnya 3,5% dalam survei Juni 2026.

Baca Juga: Pasar Obligasi Global Kembali Berdarah, Imbal Hasil US Treasury 10 Tahun Dekati 5%


Para ekonom juga menaikkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura pada 2027 menjadi 3,1%, dari sebelumnya 2,5%.

Survei tersebut dilakukan pada Agustus 2026 dengan melibatkan 25 ekonom dan analis.

Optimisme terhadap perekonomian Singapura muncul setelah ekonomi negara tersebut tumbuh 5,9% pada kuartal II-2026, melampaui ekspektasi pasar.

Pada Agustus 2026, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi kisaran 4,5%-5,5%, dari proyeksi sebelumnya sebesar 2%-4%.

Risiko Konflik Timur Tengah

Meski proyeksi pertumbuhan meningkat, para ekonom tetap melihat sejumlah risiko yang dapat menekan perekonomian Singapura.

Sekitar separuh responden dalam survei MAS menyebut konflik berkepanjangan atau eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai salah satu risiko penurunan utama bagi perekonomian Singapura.

Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Kapal Komoditas yang Lewati Selat Hormuz Anjlok

Konflik tersebut berpotensi meningkatkan harga energi dan menambah tekanan inflasi, terutama bagi negara yang sangat bergantung pada perdagangan internasional seperti Singapura.

Selain konflik Timur Tengah, sebanyak 29,4% ekonom menilai potensi pecahnya gelembung AI sebagai salah satu risiko utama terhadap perekonomian.

Proyeksi Inflasi Turun

Di tengah peningkatan proyeksi pertumbuhan, para ekonom justru sedikit menurunkan perkiraan inflasi Singapura pada 2026.

Median proyeksi inflasi inti (core inflation) untuk 2026 turun menjadi 1,9%, dari sebelumnya 2%. Sementara itu, inflasi utama (headline inflation) diperkirakan mencapai 2,1%, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,3%.

Sebagai gambaran, inflasi Singapura pada Juli 2026 tercatat sebesar 2% secara tahunan.

Baca Juga: 8 Nama WNI Ini Diklaim Intelijen Ukraina Sebagai Tentara Bayaran Rusia

Meski demikian, bank sentral Singapura memperingatkan bahwa inflasi masih akan bertahan pada level tinggi hingga paruh pertama 2027.

Tekanan inflasi juga menjadi pertimbangan MAS ketika secara mengejutkan memperketat kebijakan moneter pada akhir Juli 2026.

Kebijakan tersebut ditempuh karena risiko inflasi yang dinilai masih persisten akibat konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan biaya energi.

Kebijakan Dolar Singapura

Survei MAS juga menunjukkan perbedaan pandangan ekonom terkait arah kebijakan nilai tukar dolar Singapura.

Sebanyak 45% responden memperkirakan kemiringan (slope) pita kebijakan nilai tukar nominal efektif dolar Singapura (S$NEER) akan dinaikkan dalam peninjauan kebijakan moneter pada Oktober 2026.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 3,13% di Tengah Eskalasi Perang AS-Iran

Sementara itu, responden lainnya memperkirakan kemiringan pita kebijakan S$NEER akan tetap tidak berubah.

Perubahan kemiringan pita kebijakan S$NEER merupakan salah satu instrumen utama MAS dalam mengelola kebijakan moneter Singapura, mengingat bank sentral tersebut lebih banyak mengandalkan nilai tukar dibandingkan suku bunga sebagai instrumen kebijakan.