Ekonomi Tangerang Raya Menggeliat, Kebutuhan Ruang Komersial Meningkat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Geliat ekonomi di wilayah Tangerang Raya terus menunjukkan perkembangan di tengah dinamika ekonomi global dan nasional. Aktivitas investasi, industri, perdagangan, hingga jasa masih menjadi penggerak utama perekonomian kawasan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tangerang Selatan pada kuartal II tumbuh 2,21% secara tahunan, membaik dari kuartal pertama yang tumbuh 0,84%. Sementara itu, PDRB Kabupaten Tangerang meningkat dari 1,01% pada kuartal I menjadi 2,97%. PDRB Kota Tangerang juga membaik dari 1% menjadi 1,65%.

Dari sisi investasi, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banten, Virgojanti, mengungkapkan realisasi investasi di Provinsi Banten sepanjang paruh pertama 2026 mencapai Rp 66,3 triliun, tumbuh 9,23% secara tahunan.


Realisasi tersebut setara dengan 46,63% dari target investasi 2026 sebesar Rp142,19 triliun. Kabupaten Tangerang berkontribusi Rp 29,04 triliun, Kota Tangerang Rp 11,73 triliun, dan Tangerang Selatan Rp 7,87 triliun.

Baca Juga: JLL: Ekspansi Perusahaan Tiongkok Beri Dampak Besar bagi Sektor Real Estat Komersial

“Tujuan utama investasi asing di wilayah ini terutama ke sektor industri kimia dan farmasi dengan nilai Rp 5,44 triliun. Sementara investasi domestik didominasi sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran dengan nilai Rp 14,53 triliun,” kata Virgo, belum lama ini.

Perkembangan tersebut menunjukkan ekonomi Tangerang Raya memiliki basis yang kuat. Keberadaan kawasan industri, kota mandiri, dan dukungan infrastruktur turut menopang aktivitas usaha di wilayah ini.

Dengan basis industri dan jasa yang kuat serta arus investasi yang tetap berjalan, Tangerang Raya masih menjadi salah satu kawasan penting dalam perekonomian Banten dan kawasan penyangga Jakarta.

Geliat Area Komersial

Bisnis ritel menjadi salah satu sektor yang mencatat perkembangan positif di Tangerang Raya seiring meningkatnya jumlah penduduk, bertambahnya kawasan hunian, serta tingginya mobilitas masyarakat. Kondisi ini mendorong kebutuhan terhadap ruang komersial.

Permintaan terhadap ruko, ruang usaha, area ritel, hingga kawasan komersial terpadu semakin besar di sejumlah kawasan strategis Tangerang Raya, terutama Gading Serpong. Kota mandiri yang sebelumnya didominasi hunian kini berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi dengan fungsi perdagangan, kuliner, jasa, pendidikan, kesehatan, dan perkantoran.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan properti komersial di Provinsi Banten, termasuk Tangerang Raya, masih tumbuh positif hingga pertengahan tahun ini.

Indeks permintaan properti komersial kategori sewa pada kuartal II-2026 tumbuh 2,06% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 0,51%. Sementara itu, indeks permintaan properti komersial kategori jual tumbuh 0,01% pada kuartal II setelah mengalami kontraksi 0,17% pada triwulan sebelumnya.

Baca Juga: Permintaan Properti Komersial Masih Tumbuh, Gading Serpong Gaspol Tawarkan Peluang

Dari sisi suplai, pasokan properti komersial kategori jual naik 2,3% pada kuartal II-2026, sedangkan kategori sewa tumbuh 4,5%. Indeks harga properti komersial sewa meningkat dari 99,73% pada kuartal I menjadi 100,15% pada kuartal II. Sementara itu, indeks harga kategori jual stabil di level 108,04%.

Head of Research & Consulting CBRE Anton Sitorus menilai perkembangan bisnis komersial di Tangerang merupakan bagian dari siklus alami pertumbuhan kawasan. “Sebuah kawasan biasanya berkembang dari hunian, kemudian meluas menjadi pusat perkantoran, ruko, hotel, dan fasilitas komersial lainnya seiring bertambahnya populasi dan kebutuhan masyarakat,” jelas Anton dalam keterangannya, dikutip Senin (21/9/2026).

Anton mengatakan Tangerang telah lama menjadi kawasan penyangga Jakarta yang berkembang pesat. Pertumbuhan tersebut didukung kualitas hunian, pengembangan kawasan oleh pengembang, serta konektivitas yang semakin baik. Harga tanah Jakarta yang relatif tinggi juga membuat kawasan penyangga seperti Serpong menjadi alternatif bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Sementara itu, BPS mencatat jumlah penduduk di kawasan kota mandiri Gading Serpong mencapai 120.000 jiwa. Secara lebih spesifik, jumlah penghuni di area yang dikembangkan Paramount Land telah mencapai sekitar 70.000 jiwa.

Respons Pengembang

Pengembang kota mandiri di wilayah ini merespons permintaan dengan terus berinovasi menghadirkan ruang komersial. Paramount Land menjadi salah satu pengembang yang aktif meluncurkan produk properti komersial di kawasan Gading Serpong sepanjang tahun berjalan.

Paramount menilai geliat bisnis ritel di Paramount Gading Serpong semakin kuat, tercermin dari jumlah tenant baru. Data perusahaan menunjukkan sebanyak 707 tenant baru buka sepanjang Januari-Juli 2026.

Ferry John Sihombing, Direktur Sales & Marketing Paramount Land, mengatakan Paramount Gading Serpong telah berkembang menjadi kota yang lengkap, terintegrasi, dan dinamis dengan berbagai commercial hub. “Kawasan ini semakin dikenal sebagai salah satu pusat kuliner dan gaya hidup di Jabodetabek,” ujar Ferry, dikutip Senin (21/9/2026).

Menurut Ferry, pertumbuhan kawasan komersial merupakan bagian dari komitmen Paramount Land untuk membangun ekosistem bisnis dan gaya hidup, sekaligus mendorong terbentuknya komunitas, meningkatkan nilai kawasan, serta menciptakan peluang investasi jangka panjang. Gading Serpong kini berkembang dengan beragam aktivitas kuliner, otomotif, ritel, gaya hidup, dan sosial.

Baca Juga: Cari Hunian Premium di Kawasan Bogor? Ini Pilihan Dua Klaster dari Sinar Mas Land

Inovasi terbaru di bisnis properti komersial adalah peluncuran Grand Boulevard Aniva. Pada tahap awal, Paramount Land menawarkan 44 unit ruko dalam berbagai tipe. Tipe Reguler sebanyak 21 unit dibanderol mulai Rp3,2 miliar, tipe Alfresco sebanyak 17 unit mulai Rp3,9 miliar, dan tipe Boutique Shop sebanyak enam unit mulai Rp3,6 miliar.

Produk ini dikembangkan sebagai urban commercial hub yang mengintegrasikan bisnis dan gaya hidup. Lokasinya berada di antara Paramount Gading Serpong dan BSD City serta terhubung dengan dua akses utama Gading Serpong-BSD City yang dilalui ribuan kendaraan setiap hari. “Posisi ini memungkinkan kawasan menarik pengunjung dari Gading Serpong maupun BSD,” ujar Ferry.

Paramount Land menilai prospek bisnis Grand Boulevard Aniva cukup besar. Potensinya diperkuat captive market dari puluhan klaster hunian di sekitarnya, seperti Pasadena Grand Residences, Nara Village, Malibu Village, dan Samara Village. Kondisi ini membuka peluang foot traffic bagi pengusaha, sekaligus potensi pertumbuhan nilai aset dan pendapatan sewa bagi investor.

Mengusung konsep lifestyle, Grand Boulevard Aniva dilengkapi Aniva Grand Atrium, Luminous Park, dan Alfresco Dining. Fasilitas tersebut menjadikan kawasan ini tidak hanya sebagai area komersial, tetapi juga ruang untuk berkumpul, bersantai, menikmati kuliner, dan beraktivitas dari pagi hingga malam.

Ferry menambahkan, Grand Boulevard Aniva menghadirkan sejumlah fasilitas yang menjadi identitas kawasan, seperti Aniva Central Junction dengan marka yellow box junction yang terinspirasi dari Shibuya Crossing, Aniva Green Park sepanjang 550 meter, Aniva Mural Walk, dan Aniva Clock Square.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News