KONTAN.CO.ID - Bank sentral Singapura, Monetary Authority of Singapore (MAS), memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter pada Kamis (29/1/2026), seraya menyoroti risiko kenaikan inflasi dan permintaan di tengah prospek ekonomi yang masih dinilai tangguh. MAS menyatakan akan tetap mempertahankan laju apresiasi kebijakan nilai tukar berbasis kurs yang berlaku saat ini. Tidak ada perubahan terhadap lebar maupun titik tengah dari pita kebijakan tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Dekati US$5.600 per Ons Kamis (29/1), Investor Berburu Aset Aman “Risiko terhadap prospek pertumbuhan dan inflasi saat ini cenderung mengarah ke atas. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang secara konsisten lebih kuat dari perkiraan dapat mendorong kenaikan upah dan meningkatkan sentimen konsumen, sehingga memperbesar tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan,” kata MAS dalam pernyataannya. Meski demikian, MAS juga mengingatkan masih adanya sejumlah risiko ke bawah yang mencerminkan kerentanan mendasar pada perekonomian global. Ekonom OCBC Selena Ling menilai, nada pernyataan MAS kali ini sedikit lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. “Pernyataannya sedikit lebih hawkish dan kurang dovish, dengan penekanan pada risiko kenaikan baik terhadap pertumbuhan maupun inflasi,” ujarnya.
Baca Juga: Powell Bungkam soal Nasibnya, Ingatkan Penerus The Fed Jauhi Politik Dari 16 analis yang disurvei Reuters menjelang peninjauan kebijakan, 15 di antaranya memperkirakan MAS akan mempertahankan kebijakan moneter, didukung oleh prospek pertumbuhan yang solid, terutama dari sektor ekspor semikonduktor. Hanya satu analis yang memperkirakan adanya pengetatan kebijakan. Sejumlah analis kini memperkirakan pengetatan dapat dilakukan pada peninjauan kebijakan selanjutnya tahun ini. Ekonom Maybank Chua Hak Bin dan Selena Ling sama-sama memproyeksikan MAS akan sedikit mempercuram bias apresiasi nilai tukar dolar Singapura (S$NEER) pada peninjauan mendatang. “Sedikit penajaman S$NEER seharusnya dipandang sebagai proses normalisasi, bukan pengetatan kebijakan secara agresif,” kata Ling, merujuk pada nilai tukar efektif nominal dolar Singapura. Sementara itu, Chua menyatakan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Singapura disertai munculnya tekanan inflasi secara bertahap. “Kami lebih positif terhadap prospek pertumbuhan dan melihat tekanan inflasi mulai menguat,” ujarnya.
Baca Juga: Ancaman Demokrasi AS: Gelombang Protes Terbesar Sepanjang Sejarah Menanti Keputusan MAS ini dirilis setelah data awal pemerintah menunjukkan ekonomi Singapura tumbuh 4,8% pada 2025, melampaui proyeksi pemerintah sekitar 4,0%. Inflasi inti tercatat sebesar 1,2% secara tahunan pada Desember. Kementerian Perdagangan Singapura sebelumnya memperkirakan pertumbuhan PDB tahun ini berada di kisaran 1,0% hingga 3,0%. Pada Desember lalu, Perdana Menteri Lawrence Wong juga mengingatkan adanya tantangan dalam mempertahankan laju pertumbuhan setinggi tahun 2025. MAS turut memperbarui proyeksi inflasi inti dan inflasi utama untuk 2026 menjadi masing-masing 1,0% hingga 2,0%, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 0,5% hingga 1,5%.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Powell: Inflasi Masih Tinggi tapi Terkendali Berbeda dengan banyak negara lain yang menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama, Singapura mengelola kebijakan moneternya dengan mengizinkan nilai tukar dolar Singapura bergerak naik atau turun terhadap mata uang mitra dagang utama dalam sebuah pita kebijakan S$NEER yang tidak diumumkan ke publik. Penyesuaian kebijakan dilakukan melalui tiga instrumen, yakni kemiringan (slope), titik tengah (midpoint), dan lebar pita kebijakan.