Ekosistem Gaming Asia Tenggara Tembus US$ 14 Miliar di 2030, Indonesia Pasar Terbesar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ampverse meluncurkan Ampverse Playbook: Unlocking the Value of Gaming in Southeast Asia. Laporan industri ini mengulas skala, pertumbuhan, dan signifikansi strategis pasar gaming Asia Tenggara bagi brand, publisher, dan perusahaan media.

Laporan ini menjelaskan Asia Tenggara menjadi pasar yang semakin penting saat ini, dengan dukungan sekitar 290 juta gamer pada 2025. Estimasi nilai pasar mencapai sekitar US$ 6,6 miliar, serta ekosistem gaming yang lebih luas dan diproyeksikan menembus US$ 14 miliar pada 2030.

Laporan Ampverse menegaskan bahwa gaming di Asia Tenggara kini bukan lagi sebuah industri yang niche, melainkan telah menjadi kekuatan besar dalam ekonomi konsumen dan media. Implikasi langsung terhadap cara perusahaan membangun relevansi, menjangkau audiens, dan mendorong pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara.


Ampverse memperkirakan, jumlah gamer di Asia Tenggara akan melampaui 330 juta pada 2030, memperkuat posisi kawasan ini sebagai salah satu pasar gaming terbesar dan paling dinamis di dunia. 

Baca Juga: Sukses IPO, Begini Rencana Ekspansi BSA Logistics Indonesia (WBSA) Selanjutnya

Chief Executive Officer dan Co-Founder Ampverse, Charlie Baillie menjelaskan bahwa bagi pelaku bisnis, sorotan utama bukan hanya pada besarnya pasar, tetapi juga pada pergeseran sumber nilai. Pendapatan industri gaming diproyeksikan naik dari US$ 6,6 miliar pada 2025 menjadi US$ 7,1 miliar pada 2028.

Ampverse menilai bahwa peluang yang lebih besar justru berada pada ekosistem gaming yang lebih luas. Mulai dari kreator, komunitas, format livestreaming, hingga keterlibatan berbasis iklan.

Ekosistem yang lebih luas ini diperkirakan mencapai US$ 14 miliar pada 2030, yang menandakan bahwa dampak komersial gaming kini jauh melampaui belanja di dalam game semata.

Laporan ini juga menyoroti alasan mengapa banyak strategi regional masih belum efektif. Kategori mobile menyumbang sekitar 70% dari pendapatan gaming di Asia Tenggara, tetapi perilaku pengguna tidak hanya ditentukan oleh akses platform, melainkan juga oleh pengaruh kreator dan partisipasi komunitas.

Lebih dari separuh gamer di kawasan ini secara rutin mengonsumsi konten gaming melalui livestream, YouTube, dan media sosial, sehingga kepercayaan, relevansi lokal, dan pemahaman budaya menjadi faktor yang semakin penting bagi brand maupun publisher.

Ampverse melihat masih banyak perusahaan internasional yang belum sepenuhnya memahami karakter pasar ini. Strategi yang dibangun dengan acuan pasar Barat kerap tidak berjalan optimal di Asia Tenggara karena kurang memperhitungkan fragmentasi budaya, kompleksitas lokalisasi, serta rendahnya toleransi audiens terhadap kampanye yang terasa tidak autentik.

Baca Juga: Dampak WFH ASN: Penumpang Commuter Line Turun

Menurut laporan ini, brand perlu melihat gaming lebih dari sekadar ruang untuk beriklan, sementara publisher juga perlu berpikir lebih jauh dari sekadar taktik peluncuran dan penerjemahan bahasa.

Keberhasilan jangka panjang semakin ditentukan oleh kemampuan untuk masuk melalui kreator dan komunitas yang dipercaya, serta membangun relevansi yang spesifik di tiap pasar sejak awal.

Indonesia Pasar Gamer Terbesar

Dalam lanskap ini, Indonesia muncul sebagai salah satu pasar gaming terbesar berbasis komunitas di Asia Tenggara. Charlie mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan pasar gaming terbesar di Asia Tenggara dari sisi jumlah pemain.

Charlie juga menyoroti betapa kuatnya peran kreator, komunitas, dan relevansi budaya dalam membentuk discovery dan adopsi. 

"Gaming di Asia Tenggara masih kerap dipandang terlalu sempit, sekadar sebagai hiburan atau hanya sebagai salah satu kanal media digital. Indonesia menunjukkan dengan jelas bahwa cara pandang seperti itu sudah tidak lagi relevan. Bagi brand dan publisher, peluang di Indonesia bukan hanya soal skala, tetapi juga soal memahami bagaimana pengaruh dibangun dan dipertahankan di pasar ini,” terang Charlie dalam rilis yang disiarkan pada Jumat (10/4/2026).

Baca Juga: Intip Strategi Temas (TMAS) Jaga Laba di Tengah Biaya Logistik Melambung

Ampverse melaporkan bahwa Indonesia muncul sebagai pasar gaming terbesar di Asia Tenggara dari sisi jumlah pemain dan instalasi.

Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan basis gamer lebih dari 150 juta orang, Indonesia merupakan peluang audiens terbesar di kawasan. Discovery, adopsi, dan engagement semakin banyak dibentuk oleh kreator dan komunitas lokal.

“Indonesia memegang peran sentral dalam setiap strategi gaming Asia Tenggara yang serius, karena memadukan skala, pengaruh budaya, dan komunitas yang sangat terhubung,” ungkap Charlie.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News