Bank Indonesia (BI) tampaknya harus lebih cepat menerbitkan kebijakan yang mampu menggiring bank menyalurkan likuiditas ke sektor produktif. Soalnya, dana menganggur yang diputar perbankan di instrumen keuangan terus membesar.Data BI mencatat, ekses likuiditas di perbankan hingga pekan lalu mencapai Rp 380 triliun. Menurut Halim Alamsyah, Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, duit itu menyebar di instrumen moneter Sertifikat Bank Indonesia (SBI) serta operasi pasar terbuka seperti Fine Tune Operasi (FTO) dan Fine Tune Kontraksi (FTK). Di SBI, dana bank mencapai Rp 236 triliun dari total SBI saat ini yang nilainya Rp 325 triliun. Jika ditambah instrumen FTO, FTK, angkanya Rp 380 triliun. "Itu belum termasuk kepemilikan Surat Utang Negara (SUN) dan piutang bank di pasar uang antara bank," ujar Halim, di Jakarta, Kamis (22/4). Banjir likuiditas itu menjadi PR BI agar tidak berdampak negatif bagi perekonomian. "Jangan sampai ekses likuiditas dibiarkan terlalu lama berkeliaran," tegas Halim. Maklum, risikonya cukup besar. Para pemegang likuiditas itu bisa saja bermain di pasar valuta asing dan ujung-ujungnya bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah.
Ekses Likuiditas Bank Hampir Rp 400 Triliun
Bank Indonesia (BI) tampaknya harus lebih cepat menerbitkan kebijakan yang mampu menggiring bank menyalurkan likuiditas ke sektor produktif. Soalnya, dana menganggur yang diputar perbankan di instrumen keuangan terus membesar.Data BI mencatat, ekses likuiditas di perbankan hingga pekan lalu mencapai Rp 380 triliun. Menurut Halim Alamsyah, Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, duit itu menyebar di instrumen moneter Sertifikat Bank Indonesia (SBI) serta operasi pasar terbuka seperti Fine Tune Operasi (FTO) dan Fine Tune Kontraksi (FTK). Di SBI, dana bank mencapai Rp 236 triliun dari total SBI saat ini yang nilainya Rp 325 triliun. Jika ditambah instrumen FTO, FTK, angkanya Rp 380 triliun. "Itu belum termasuk kepemilikan Surat Utang Negara (SUN) dan piutang bank di pasar uang antara bank," ujar Halim, di Jakarta, Kamis (22/4). Banjir likuiditas itu menjadi PR BI agar tidak berdampak negatif bagi perekonomian. "Jangan sampai ekses likuiditas dibiarkan terlalu lama berkeliaran," tegas Halim. Maklum, risikonya cukup besar. Para pemegang likuiditas itu bisa saja bermain di pasar valuta asing dan ujung-ujungnya bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah.