KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dinilai masih menjanjikan hingga akhir tahun, ditopang ekspansi bisnis pusat data (data center). Meski begitu, persaingan industri dan ketidakpastian regulasi masih menjadi tantangan yang perlu dicermati. Prospek positif TLKM datang seiring ekspansi bisnis data center melalui NeutraDC serta rencana divestasi 70% saham unit usaha tersebut. Tercatat, TLKM memiliki fasilitas JKT-1 di Cikarang dengan kapasitas desain 21,5 megawatt (MW). Namun, saat ini kapasitas yang telah beroperasi baru mencapai 3,5 MW dan sekitar 18 MW lainnya telah selesai dibangun serta seluruhnya telah dikontrak oleh pelanggan, namun masih menunggu proses penyesuaian (
tenant customization). Baca Juga: Risiko Gagal Bayar, Pefindo Pangkas Rating ADHI & Masukkan CreditWatch Negatif Selain Cikarang, NeutraDC juga mengembangkan fasilitas
hyperscale di Batam berkapasitas 18 MW yang ditargetkan siap beroperasi (ready for service/RFS) pada 2026 dan telah sepenuhnya dikontrak oleh Gorilla Technology selaku penyewa utama. Sementara itu, fasilitas di Singapura dengan kapasitas 17,4 MW telah beroperasi penuh. Kata Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, keberadaan fasilitas di Singapura ini akan menambah pendapatan berulang (
recurring revenue) dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS), sehingga dapat menjadi lindung nilai alami (
natural hedge) terhadap pelemahan rupiah. “Total pipeline NeutraDC yang mencapai sekitar 57 MW berpotensi memberikan kontribusi pendapatan yang semakin berarti bagi kinerja konsolidasi TLKM apabila seluruh kapasitasnya terserap. Kondisi ini memperkuat tesis transformasi Telkom dari legacy telco menjadi AI
infrastructure player,” ujar Wafi kepada Kontan, Senin (3/8/2026). Selain ekspansi data center, Wafi menyebut terdapat sejumlah katalis positif lain yang berpotensi menopang kinerja TLKM. Di antaranya adalah strategic partner untuk NeutraDC yang sebelumnya disebut memiliki valuasi sekitar US$ 1,5 miliar. Menurut Wafi, masuknya investor strategis berpotensi menjadi pemicu terbukanya nilai (
value unlocking) bagi perseroan. Selain itu, divestasi aset non-inti (non-core) dinilai dapat memperkuat fokus TLKM pada bisnis infrastruktur digital. Lalu kepemilikan spektrum Telkomsel sebesar 37,2% juga diperkirakan akan meningkatkan kualitas jaringan sekaligus memperkuat layanan B2B. Meski demikian, Wafi mengingatkan sejumlah sentimen negatif yang perlu dicermati. Persaingan industri telekomunikasi diperkirakan semakin ketat setelah terbentuknya XLSmart yang memiliki penguasaan spektrum sekitar 32,6%. Selain itu, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai kuota internet yang tidak boleh hangus berpotensi menambah ketidakpastian regulasi terhadap model bisnis layanan prabayar. Untuk diketahui, baru-baru ini, MK melalui Putusan MK Nomor 273/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan pada 23 Juli 2026 memutuskan bahwa operator seluler wajib menyediakan pilihan layanan yang menjamin sisa kuota internet pelanggan tidak hangus secara sepihak. MK menilai sisa kuota yang telah dibeli memiliki nilai ekonomis sebagai benda tidak berwujud milik konsumen. Kendati demikian Analis KB Valbury Sekuritas Steven Gunawan, mencermati, putusan MK di atas hanya akan memberikan dampak terbatas terhadap laba TLKM dalam jangka pendek. Hal ini karena Telkomsel telah menyediakan fitur akumulasi kuota dan fleksibilitas penggunaan kuota pada sejumlah produk, seperti Simpati Internet Bulanan. Ekosistem yang kuat, kualitas jaringan, serta disiplin harga diyakini akan membantu implementasi kebijakan tersebut tanpa mengganggu kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan. “Selain itu, putusan MK tidak mewajibkan seluruh kuota dapat diperpanjang secara otomatis (quota rollover), sehingga operator masih memiliki fleksibilitas dalam memenuhi ketentuan tersebut,” ungkap Steven dalam riset 3 Agustus 2026. Sepanjang semester I-2026, TLKM merealisasikan belanja modal sebesar Rp 10,8 triliun, dengan lebih dari 96% dialokasikan untuk pengembangan area bisnis prioritas pada segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International Business. Selain itu, TLKM telah menyelesaikan sejumlah tahapan persiapan strategis pengalihan aset InfraNexia Tahap 2 yang ditargetkan rampung pada semester II-2026. Jika melihat dari sisi kinerja keuangan, TLKM membukukan kinerja keuangan yang positif pada semester I-2026 dengan mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,9 triliun atau tumbuh 3,9% YoY. TLKM juga mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 10,6 triliun, tumbuh 1,4% YoY. Menurut Steven, TLKM kembali membukukan perbaikan kinerja secara kuartalan. Pemulihan pada segmen layanan data, internet, dan IT yang telah berlangsung sejak kuartal III-2025 terus berlanjut, dengan rata-rata pertumbuhan 4,1% QoQ selama tiga kuartal terakhir. Dengan berbagai faktor di atas, Steven pun memperkirakan kinerja TLKM membaik pada 2026. Pendapatan diproyeksikan naik 1,5% secara tahunan menjadi Rp 148,88 triliun dari realisasi Rp 146,74 triliun pada 2025. Sementara itu, laba bersih diperkirakan melonjak 26,5% YoY menjadi Rp 22,54 triliun, dibandingkan Rp 17,81 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi strategi investasi, Steven memberikan rekomendasi untuk buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.300 per saham. Sama halnya, Wafi memberikan rekomendasi untuk buy TLKM dengan target harga Rp 3.500 per saham. Sementara Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Etta Rusdiana Putra, memberikan rekomendasi investor untuk buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.400 per saham.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi pada Januari – Juli 2026 Anjlok 16,23% YoY Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News