KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia atau Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) memperkirakan kapasitas data center nasional berpotensi mencapai 11–12 gigawatt (GW) menuju 2030, seiring masuknya pemain global dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital. Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma mengatakan, kapasitas data center Indonesia yang telah terpasang dan beroperasi saat ini berada di kisaran 650 megawatt (MW). Namun, pipeline pengembangan yang tengah masuk jauh lebih besar. “Dengan masuknya
hyperscaler, cloud provider, AI
infrastructure provider serta ekspansi operator domestik dan global, kami melihat potensi kapasitas Indonesia dapat mencapai sekitar 11–12 GW menuju 2030, apabila seluruh pipeline dan rencana investasi tersebut terealisasi,” ungkap Hendra, kepada
Kontan.co.id, Jumat (25/9).
Baca Juga: Kementerian PU Bentuk Balai Dana Tol, Pengamat: Bisa Topang Ruas yang Merugi Meski demikian, Hendra menegaskan angka tersebut masih merupakan potensi dan pipeline.
Realisasi kapasitas data center akan berlangsung secara bertahap dan bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari permintaan pelanggan, kesiapan jaringan listrik, ketersediaan energi, lahan, konektivitas fiber, perizinan hingga kecepatan pembangunan. Selain itu, perbandingan kapasitas antarproyek juga perlu memperhatikan perbedaan terminologi, seperti IT
load, facility power, contracted power hingga kapasitas yang masih dalam tahap konstruksi. Meski demikian, IDPRO melihat arah pertumbuhan industri tetap kuat. Salah satu pendorongnya adalah perkembangan AI yang membutuhkan kapasitas komputasi dan
power density lebih tinggi dibandingkan data center konvensional. “Yang jelas, arah pertumbuhannya sangat kuat. AI bahkan mengubah skala industri karena kebutuhan komputasi dan power density-nya jauh lebih tinggi dibandingkan data center konvensional,” terangnya.
Ekspansi tersebut tidak hanya menciptakan peluang bagi operator data center. Menurut Hendra, dampak ekonomi industri ini juga menyebar ke sektor konstruksi, engineering, kelistrikan, telekomunikasi hingga tenaga kerja berkeahlian tinggi. Data center membutuhkan berbagai komponen dan jasa sejak tahap pembangunan, mulai dari kontraktor sipil, sistem kelistrikan, HVAC, genset, UPS,
switchgear, cooling system, fire protection, fiber optic hingga testing dan commissioning. Setelah beroperasi, kebutuhan bergeser ke tenaga kerja seperti data
center engineer, electrical dan
mechanical engineer, network engineer, cybersecurity, facility management hingga
cloud engineer. Hendra menilai dampak yang lebih besar justru berasal dari aktivitas ekonomi digital yang ditopang oleh infrastruktur data center. "Ketiga, dan menurut kami yang paling penting dalam jangka panjang, adalah
digital economic multiplier. Data center menjadi infrastruktur tempat cloud, AI, fintech, e-
commerce, digital banking, content platform, SaaS dan berbagai layanan digital beroperasi,” ujarnya.
Oleh karena itu, multiplier effect data center tidak cukup diukur dari jumlah pekerja yang berada di dalam fasilitas tersebut. Keberadaan data center juga menjadi fondasi bagi berbagai bisnis digital yang menggunakan kapasitas komputasi dan penyimpanan data. Dari sisi wilayah, perkembangan cluster data center juga mulai terlihat di luar kawasan utama Greater Jakarta. Namun, Batam dan sejumlah wilayah lain mulai dikembangkan sebagai hub baru, yang berpotensi menarik aktivitas ekonomi dan rantai pasok di sekitarnya.
Dengan prospek pertumbuhan tersebut, Indonesia berpeluang memperkuat posisi sebagai salah satu hub data center dan infrastruktur AI di Asia Tenggara. Namun, pertumbuhan kapasitas perlu berjalan seiring dengan kesiapan energi, infrastruktur dan aspek keberlanjutan. “Jadi bagi IDPRO, ekspansi data center harus berjalan dengan tiga hal secara bersamaan:
digital sovereignty, sustainability, dan
economic value creation,” pungkasnya.
Baca Juga: Discovery Commerce Buka Peluang Baru UMKM Menjangkau Konsumen Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News