KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ecocare Indo Pasifik Tbk (
HYGN) terus memacu pertumbuhan bisnis melalui ekspansi armada kendaraan listrik (
Electric Vehicle/EV) dan peluncuran lini inovasi baru. Emiten penyedia layanan terintegrasi ini optimistis bahwa langkah tersebut mampu menjadi motor penggerak utama kinerja pada tahun 2026. Sejak berdiri pada 2007 dan sukses melantai di bursa pada awal 2024, HYGN gencar memperkuat posisi fundamentalnya di pasar.
Perusahaan baru saja melakukan penjenamaan ulang pada tahun 2025 untuk mengukuhkan diri sebagai perusahaan layanan terintegrasi di bidang higienitas, kebersihan, dan pengendalian hama.
Baca Juga: Rupiah Menguat di Level Rp 17.899, Analis Proyeksi Pekan Depan Bergerak Volatil Langkah strategis tersebut terbukti berdampak positif terhadap pembukuan kinerja keuangan perusahaan. Pendapatan usaha HYGN berhasil tumbuh menjadi Rp 360,58 miliar pada 2025, melesat dari posisi Rp 309,34 miliar pada tahun 2024. Sejalan dengan pertumbuhan itu, laba tahun berjalan juga tercatat naik menjadi Rp 19,76 miliar dari periode sebelumnya yang sebesar Rp 18,67 miliar. Total aset perusahaan pun tampak semakin solid dengan menyentuh angka Rp 215,52 miliar pada penutupan tahun lalu. Untuk menjaga tren pencapaian ini, perusahaan mulai mengandalkan sistem digitalisasi berbasis data dan kecerdasan buatan (
Artificial Intelligence/AI). Sistem mutakhir ini dirancang khusus untuk mendongkrak pertumbuhan penjualan, mengefisienkan layanan teknisi, hingga mengontrol profitabilitas secara real time. Di sisi operasional lapangan, HYGN berfokus untuk menekan biaya dengan menambah armada EV secara masif.
Jumlah armada ramah lingkungan ini melonjak tajam dari hanya 10 unit motor pada 2024 menjadi total 52 unit per Mei 2026. Komposisi kendaraan listrik saat ini mencakup 50 unit motor dan dua unit mobil. Ekspansi fasilitas kendaraan ini menjadi wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendukung agenda keberlanjutan bisnis. Guna memuluskan pengadaan armada anyar tersebut, perusahaan telah merealisasikan alokasi belanja modal (
capital expenditure/capex) sekitar Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar sejak tahun 2025. Selain membenahi efisiensi, ekspansi turut diarahkan pada penciptaan ceruk pendapatan baru melalui peluncuran unit bisnis EcoCare Pure Air. Unit ini menjajakan solusi cerdas berupa pemantauan kualitas udara berbasis
Internet of Things (IoT) serta pengolahan data yang akurat. Guna melengkapi ekosistem layanan tersebut, perusahaan juga merilis portofolio produk baru bernama EcoCare Scent Nano dan EcoCare Diamond Series. Scent Nano menawarkan efisiensi konsumsi pewangi ruangan yang hemat, sedangkan Diamond Series memberikan desain elegan untuk menunjang fasilitas komersial berstandar modern. Demi mengembangkan unit bisnis dan inovasi teranyar ini, HYGN telah menyiapkan capex tambahan di kisaran Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Nilai investasi tersebut diproyeksikan dapat terus dipertebal apabila permintaan produk di pasar melambung tinggi. Penetrasi dari lini bisnis baru ini akan dikonsentrasikan secara strategis di beberapa wilayah berpotensi.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,04% ke 6.093 pada Jumat (9/10/2026), INDY, HRTA, AMMN Top Gainers LQ45 Direktur Utama Ecocare Indo Pasifik Wincent Yunanda menjelaskan bahwa jangkauan layanan mereka sebenarnya sudah sangat memadai. "Untuk fokus di tahun ini, khususnya untuk Ecocare Pure Air, kami akan fokuskan pemasaran di area Jabodetabek. Namun, kami tidak menutup kemungkinan apabila ada demand dari luar area itu bisa kami penuhi karena service coverage kami secara Ecocare Group company sudah berada di kota-kota besar di seluruh Indonesia, ditambah terkait dengan adanya case volcanic ash yang sedang viral sangat berdampak pada kualitas udara yang ada di Indonesia," kata Wincent dalam pemaparan publik, (22/9/2026). Sentimen kualitas udara akibat polusi abu vulkanik tersebut memunculkan tingkat kesadaran pelanggan korporasi terhadap pentingnya ekosistem lingkungan yang sehat. Di sisi lain, perusahaan juga sudah menyiapkan langkah mitigasi dalam menghadapi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ketergantungan pada rantai pasok yang sebagian besar dipenuhi oleh barang domestik membuat operasi bisnis tetap tangguh di tengah gejolak kurs. "Tentu ada, tetapi mayoritas pembelian kami adalah dari lokal, jadi imbasnya tidak begitu besar. Kami sampaikan bahwa saat ini perusahaan masih on track dan masih sesuai target yang kami tentukan di akhir tahun 2025. Saat ini, per Juni tahun 2026, sudah mencapai pertumbuhan 20% untuk pendapatan, dan kami yakin di akhir tahun ini pendapatan perusahaan dapat bertumbuh 15% dan laba perusahaan bisa tumbuh 15–20% dibandingkan tahun 2025," ungkap Wincent. Target perolehan angka ganda itu menjadi indikasi kuat bahwa strategi diversifikasi portofolio perusahaan berjalan pada koridor yang tepat. Fundamental neraca keuangan HYGN pun tercatat berkinerja sehat dan jauh dari risiko gagal bayar.
Baca Juga: Gandeng CloudSigma, AREA Investasi Infrastruktur AI Hal ini tercermin dari total liabilitas perusahaan yang menyusut menjadi Rp 46,08 miliar jika disandingkan dengan kekuatan ekuitas sebesar Rp 169,43 miliar pada tahun 2025. Dari sisi pergerakan saham di bursa, melansir data perdagangan hingga penutupan Jumat (9/10/2026), laju saham HYGN terpantau parkir di zona merah.
Saham emiten ini ditutup melemah 1,09% atau turun 2,00 poin ke level Rp 182 per saham, bila dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya di posisi Rp 184 per saham. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, pergerakan saham HYGN berjalan fluktuatif dengan pembukaan pada level Rp 184 per saham, sempat menyentuh level tertinggi di Rp 185 per saham, hingga terperosok ke level terendah di Rp 179 per saham sebelum akhirnya ditutup stabil di angka Rp 182. Adapun nilai kapitalisasi pasar perusahaan saat ini tercatat mencapai Rp 459,55 miliar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News