Ekspansi Gerai dan Nataru Menopang Sumber Alfaria (AMRT), Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) atau Alfamart masih menghadapi sejumlah tantangan di tengah pelemahan daya beli masyarakat dan tekanan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, ekspansi gerai dan momentum peningkatan konsumsi pada akhir tahun berpotensi menjadi penopang pertumbuhan perusahaan.

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan dampak pelemahan rupiah yang persisten terhadap kinerja AMRT cenderung tidak langsung. Pasalnya, mayoritas produk yang dijual perusahaan merupakan produk lokal.


Menurutnya, tekanan nilai tukar lebih dahulu dirasakan oleh pemasok, terutama untuk bahan baku impor seperti gandum, plastik, dan energi. Kenaikan biaya tersebut kemudian berpotensi diteruskan kepada peritel melalui penyesuaian harga jual.

Baca Juga: IHSG Turun 0,88% ke 4.860 Sesi I, Top Losers LQ45: WIFI, BRPT, MEDC, Rabu (4/11)

"AMRT biasanya bisa meneruskan kenaikan harga kepada konsumen (pass-on), sehingga margin relatif terjaga," ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).

Meski demikian, kenaikan harga jual tetap menyimpan risiko terhadap volume penjualan. Terlebih, apabila kenaikan harga terjadi ketika daya beli masyarakat sedang melemah, konsumen berpotensi mengurangi belanja atau beralih ke produk dengan harga yang lebih terjangkau.

Sementara itu, terkait rencana pengenaan pajak digital, Wafi menilai dampak langsungnya terhadap AMRT relatif minim. Sebab, ketentuan pajak digital yang berlaku saat ini menyasar transaksi dari luar negeri, sehingga pengaruhnya terhadap aktivitas belanja konsumen di gerai minimarket tidak terlalu besar.

Dengan demikian, tekanan tersebut tidak serta-merta menyebabkan penurunan penjualan AMRT. Namun, pertumbuhan penjualan perusahaan berpotensi mengalami perlambatan apabila tekanan daya beli masyarakat berlanjut.

Dari sisi prospek bisnis, Wafi melihat ekspansi gerai masih menjadi salah satu katalis utama pertumbuhan AMRT. Perusahaan diperkirakan menambah sekitar 500 gerai baru pada semester II-2026, setelah merealisasikan pembukaan 323 gerai pada semester I-2026.

Baca Juga: Ekspansi Gerai Diproyeksi Jadi Katalis Pertumbuhan Sumber Alfaria (AMRT) hingga 2027

Telah tercatat hingga September 2026, perusahaan mengoperasikan sekitar 21.500 hingga 21.900 gerai secara total.

Selain ekspansi, momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada kuartal IV-2026 juga berpotensi mendongkrak kinerja perusahaan. Pasalnya, periode tersebut secara historis menjadi salah satu kuartal dengan aktivitas konsumsi yang relatif kuat.

Wafi menambahkan, perubahan pola belanja masyarakat juga dapat memberikan keuntungan bagi bisnis minimarket. Di tengah tekanan daya beli, konsumen cenderung mengurangi belanja dalam jumlah besar dan beralih ke pola belanja dengan nominal lebih kecil, tetapi lebih sering.

Kondisi tersebut berpotensi menguntungkan AMRT karena jaringan minimarket memiliki kedekatan lokasi dengan konsumen dan menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari.

Dari sisi fundamental, kinerja AMRT juga menunjukkan pertumbuhan. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026, AMRT membukukan pendapatan neto sebesar Rp 101,28 triliun. Perolehan tersebut meningkat sekitar 7,21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 94,48 triliun. 

Baca Juga: Timothy Ronald Miliki 1,26% Saham TMPO, Intip Profil dan Kinerja Emiten Ini

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat. Hingga 30 September 2026, AMRT mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,40 triliun, naik sekitar 3,79% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan Rp 2,31 triliun pada periode yang sama 2025.

Selain itu, peningkatan bobot saham AMRT dalam indeks harga saham gabungan (IHSG) setelah keluarnya saham HSC pada 2 November 2026 juga menjadi sentimen positif yang dapat dicermati investor.

Meski demikian, sejumlah risiko masih membayangi kinerja AMRT ke depan. Wafi menyoroti tekanan daya beli masyarakat kelas menengah yang berpotensi membatasi pertumbuhan penjualan.

Di samping itu, kenaikan upah minimum provinsi (UMP) pada 2027 berpotensi meningkatkan beban karyawan. Kenaikan biaya sewa gerai dan tarif listrik juga perlu dicermati karena dapat menambah tekanan terhadap biaya operasional perusahaan.

Persaingan dengan peritel modern lainnya maupun platform e-commerce turut menjadi tantangan bagi AMRT dalam mempertahankan pangsa pasar.

Baca Juga: Minat Lelang Sukuk Meningkat, Yield SUN Bergerak Bervariasi

Terkait rekomendasi investasi, Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama memberikan rekomendasi hold saham AMRT dengan target harga Rp 1.400 per saham. 

Sementara itu, Head Equity Research Henan Putihrai Sekuritas, Yehezkiel Christian Hamidjaja merekomendasikan buy saham AMRT dengan target harga Rp 1.500 per saham. 

Rekomendasi serupa juga diberikan Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, yang menyarankan investor untuk membeli saham AMRT dengan target harga lebih tinggi, yakni Rp 2.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News