KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) diproyeksikan tumbuh secara penuh kehati-hatian hingga akhir tahun 2026. Meskipun emiten pengelola Rumah Sakit Hermina ini ditopang oleh tingginya permintaan layanan kesehatan serta strategi ekspansi jaringan, tekanan biaya operasional dan fleksibilitas tarif menjadi tantangan dalam menjaga margin profitabilitas.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai HEAL memiliki penopang fundamental yang kuat lewat permintaan struktural dari penuaan populasi
(aging population) serta perluasan jangkauan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Baca Juga: IHSG Anjlok ke 6.492 Pukul 09.30 WIB, Jumat (11/9), CPIN, CUAN, JPFA Top Losers LQ45 Manajemen perseroan pun konsisten mempertahankan target pertumbuhan pendapatan di level dua digit untuk tahun fiskal 2026. Selain itu, sektor kesehatan yang bersifat defensif menjadi tujuan rotasi investor di tengah dinamika pasar modal jelang evaluasi rebalancing indeks. Kendati demikian, Wafi memberikan catatan terhadap risiko operasional. Fluktuasi nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan beban pembelian alat medis dan obat-obatan impor. Di sisi lain, tarif INA-CBGs yang bersifat tetap (fixed) membatasi
pricing flexibility HEAL sebagai rumah sakit dengan porsi pasien BPJS Kesehatan yang tinggi. "Ekspansi fasilitas baru di Lampung, Bogor, dan Arcamanik, serta pengembangan
Centers of Excellence memang strategi yang tepat secara arah, tetapi timing-nya cukup menantang," ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (10/9). Menurutnya, penambahan kapasitas butuh waktu 18 hingga 36 bulan sebelum mencapai tingkat keterisian (
occupancy) yang impas (
breakeven), sehingga dalam jangka pendek beban penyusutan dan biaya operasional akan naik terlebih dahulu sebelum pendapatan dari fasilitas baru tumbuh secara optimal. Tantangan margin ini juga tercermin pada pencapaian semester I 2026. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Paulina Margareta mencatat bahwa meskipun pendapatan HEAL naik 6,5% secara tahunan menjadi Rp 3,6 triliun, laba bersihnya terkoreksi 14,1% YoY menjadi Rp 193 miliar. Hal ini dipicu oleh lemahnya
operating leverage akibat penambahan kapasitas tempat tidur secara agresif dari 4.000 unit pada 2019 menjadi 8.600 unit. Di balik tekanan jangka pendek tersebut, Analis OCBC Sekuritas Jessica Leonardy menilai langkah perseroan mengalokasikan belanja modal (capex) Rp 1,3 triliun untuk pengembangan
Centers of Excellence, seperti onkologi, stroke, fertilitas, dan ortopedi, akan secara bertahap memperkuat segmen pasien non-BPJS. Selain itu, kolaborasi dengan Grup Astra melalui layanan medical check-up (MCU) dan rujukan medis mulai menunjukkan prospek positif dengan kontribusi sekitar 3% terhadap total pendapatan.
Melihat prospek tersebut, Paulina Margareta merekomendasikan
buy saham HEAL dengan target harga Rp 1.050 per saham. Senada, Jessica Leonardy mempertahankan rekomendasi
buy dengan target harga Rp 900 per saham.
Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (10 September 2026), INDY dan NCKL Disorot Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News