Ekspansi JIIPE dan LNG Jadi Mesin Kinerja AKRA, Analis Kompak Rekomendasi Buy



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menunjukkan prospek kinerja yang solid hingga paruh kedua tahun ini, ditopang oleh bertumbuhnya bisnis perdagangan dan distribusi BBM serta laju penjualan lahan di kawasan industri JIIPE.

Di tengah tantangan penurunan margin dan kerugian sementara pada bisnis BBM eceran, ekspansi layanan utilitas serta proyek LNG menjadi amunisi penting bagi perseroan dalam menjaga tren pertumbuhan laba bersih.

Positifnya prospek emiten distribusi energi ini tercermin dari realisasi kinerja keuangan semester I-2026 yang berhasil memenuhi separuh dari target tahunan para analis.


Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan mengatakan bahwa AKRA mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 30,84 triliun pada semester I-2026, melonjak 44,0% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 21,41 triliun.

Baca Juga: Laba Pengembang Properti Tertekan, BSDE, PWON, SMRA Meleset dari Ekspektasi

Sejalan dengan kenaikan top line, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) tumbuh 21,2% secara tahunan menjadi Rp 1,43 triliun dari sebelumnya Rp 1,18 triliun.

Hasan menjelaskan bahwa pencapaian laba bersih tersebut sejalan dengan estimasi Maybank Sekuritas karena telah memenuhi 51,8% dari target setahun penuh 2026 dan 50,6% dari konsensus pasar.

Pada kuartal II-2026 saja, momentum laba bersih AKRA terakselerasi dengan kenaikan 25,9% YoY dan 17,9% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) menjadi Rp 774 miliar.

Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) konsolidasi pada semester I-2026 tercatat menguat 18,2% YoY menjadi Rp 2.01 triliun. 

Dari sisi operasional, segmen perdagangan dan distribusi (Trading & Distribution/T&D) masih menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi AKRA.

Tim Analis INA Sekuritas Indonesia mencatat pendapatan dari segmen T&D naik 44% YoY menjadi Rp 28.0 triliun, yang didorong oleh kuatnya permintaan produk BBM industri dan bahan kimia dasar.

Hasan merincikan, penjualan BBM melonjak 46,7% YoY menjadi Rp 23.53 triliun, sedangkan penjualan bahan kimia dasar tumbuh 30,4% YoY menjadi Rp 4,5 triliun pada semester I-2026.

Adapun segmen manufaktur mencatatkan pendapatan Rp 253,5 miliar atau naik 5% YoY, dan layanan logistik naik 3% YoY menjadi Rp 713.5 miliar. 

Di luar bisnis distribusi, pendorong pertumbuhan paling kuat datang dari segmen kawasan industri dan utilitas JIIPE. Total pendapatan segmen kawasan industri dan utilitas melonjak 102% YoY menjadi Rp 1,7 triliun.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melamh ke Rp 17.877 Per Dolar AS Hari Ini (12/8), Asia Bervariasi

Lonjakan tersebut dipicu oleh peningkatan penjualan lahan industri sebesar 139% YoY menjadi Rp 1.28 triliun dengan total luas lahan teruji mencapai 58 hektare (Ha) pada semester I-2026.

Di samping itu, pendapatan dari penyediaan listrik dan utilitas lainnya tumbuh 37% YoY menjadi Rp 426.5 miliar seiring meningkatnya konsumsi dari para penyewa (tenant). 

Kendati pendapatan melesat, perseroan menghadapi tantangan untuk menormalisasi margin profitabilitas pada kuartal II-2026.

Hasan menyebutkan bahwa margin laba kotor (gross profit margin) konsolidasi menyempit menjadi 7,4% pada semester I-2026 dari posisi 9,1% pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Tim Analis INA Sekuritas Indonesia, penurunan margin kotor kuartal II-2026 menjadi 6,6% dan margin laba bersih menjadi 4,3% disebabkan oleh tingginya kontribusi bisnis T&D yang bermargin lebih rendah serta kerugian pada bisnis BBM eceran JV BP-AKR.

Kerugian pada bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tersebut terjadi karena perseroan memilih menahan harga jual eceran di tengah kenaikan biaya pengadaan BBM. 

"AKRA mempertahankan harga jual bahan bakar eceran meskipun terdapat kenaikan biaya pengadaan, serta belum mengakui selisih harga bahan bakar eceran sebesar sekitar Rp 250 miliar sembari menunggu pembahasan dengan pemerintah," jelas tim analis INA Sekuritas Indonesia dalam risetnya, (3/8/2026).

Jika dampak penundaan pengakuan selisih harga tersebut dikeluarkan, estimasi laba kotor segmen T&D diperkirakan tetap mampu tumbuh sekitar 20% secara kuartalan. 

Melihat solidnya capaian paruh pertama, manajemen AKRA menaikkan panduan pertumbuhan laba bersih tahun 2026 menjadi 15% hingga 20% YoY, dari target awal sebesar 7% hingga 10% YoY.

Tim analis INA Sekuritas Indonesia menuturkan bahwa optimisme manajemen ini ditopang oleh target penjualan lahan JIIPE sebesar 90–100 Ha pada tahun 2026 serta membaiknya spread margin T&D.

Hasan menambahkan bahwa AKRA menargetkan tambahan penjualan lahan sebesar 40 Ha pada periode Agustus hingga September 2026, yang akan mendekatkan total penjualan lahan ke batas atas target tahunan. 

Selain penjualan lahan, segmen utilitas diperkirakan akan mencetak pendapatan sekitar Rp 1 triliun pada tahun 2026 dan berpotensi meningkat hingga Rp 2 triliun pada tahun 2027 seiring beroperasinya fasilitas pemurnian Freeport dan Xinyi Glass.

Dalam jangka panjang, AKRA juga menyiapkan proyek ekspansi unit regasifikasi penyimpanan terapung (Floating Storage Regasification Unit/FSRU) LNG dengan nilai investasi USD 450 juta hingga USD 500 juta yang ditargetkan rampung pada 2029.

Baca Juga: Pemegang Saham BEI Respons Positif Rencana Demutualisasi Bursa

Investasi proyek LNG tersebut akan didanai menggunakan posisi kas internal perseroan yang mencapai Rp 8.9 triliun tanpa mengganggu kebijakan pembagian dividen. 

Hasan mencatatkan arus kas operasional AKRA yang mencapai Rp 3,94 triliun pada semester I-2026 memberikan posisi keuangan yang sangat sehat (net cash).

"Kami tetap memandang positif AKRA berkat platform distribusinya yang tangguh, pipeline JIIPE yang kuat, pendapatan utilitas berulang yang terus meningkat, serta arus kas operasi semester pertama tahun 2026 yang mencapai hampir Rp 4 triliun, yang mendukung pembayaran dividen dan ekspansi di masa depan tanpa membebani neraca keuangan," ujar Hasan dalam risetnya, (4/8/2026). 

Kinerja AKRA akan diuntungkan oleh pertumbuhan PDB nasional serta aktivitas pertambangan dan manufaktur yang mendorong permintaan BBM industri dan bahan kimia.

Namun, Hasan mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati, seperti penurunan harga komoditas, lambatnya pertumbuhan ekonomi, gangguan pada rantai pasok global akibat perang dagang, serta persaingan harga dari pemain luar negeri.  

Menimbang fundamental yang solid serta potensi pertumbuhan pendapatan berulang, Hasan dan tim analis INA Sekuritas Indonesia kompak memberikan pandangan positif untuk saham AKRA.

Hasan mempertahankan rekomendasi buy untuk saham AKRA dengan target harga di level Rp 1.850 per saham.

Senada, tim analis INA Sekuritas Indonesia juga merekomendasikan buy saham AKRA dengan target harga sebesar Rp 1.850 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News