KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (
ISSP) berpotensi menguat mulai 2027 seiring penambahan kapasitas produksi melalui pengembangan Plant 7. Ekspansi ini diharapkan meningkatkan volume penjualan pipa, memperbesar kontribusi segmen minyak dan gas (migas), serta mendorong perbaikan margin keuntungan. Produsen pipa baja yang dikenal dengan nama Spindo tersebut menargetkan tambahan output sekitar 50.000 ton hingga 70.000 ton pada 2027. Peningkatan kapasitas ini didukung penambahan mesin pipa berukuran 8 inci dan 20 inci.
Baca Juga: Prospek Saham PWON pada 2027, Pendapatan Berulang Jadi Penopang Kinerja Pengembangan Plant 7 dilakukan secara bertahap. Tahap pertama berupa pembangunan North Distribution Centre atau gudang seluas 1 hektare telah rampung pada 2024 dan kini berfungsi sebagai pusat distribusi. Adapun tahap kedua mencakup penambahan mesin pipa berukuran 8 inci dan 20 inci. Mesin 8 inci telah beroperasi sejak kuartal II 2026, sementara proses final commissioning mesin 20 inci ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026. Analis Stockbit Sekuritas Edi Chandren dan Christian William Munaba memperkirakan laba bersih ISSP dapat mencapai Rp 870 miliar pada 2027 dan meningkat menjadi Rp 1,1 triliun pada 2028. Sebagai pembanding, pada semester I 2026 Spindo membukukan laba bersih Rp 20,5 miliar dengan pendapatan sebesar Rp 2,84 triliun. “Pertumbuhan laba ini akan didorong oleh tambahan volume dari Unit 7, peningkatan margin seiring naiknya kontribusi penjualan ke segmen minyak dan gas (migas), serta penurunan beban bunga seiring skala operasi yang lebih besar (leverage),” tulis Edi dan Christian dalam riset Stockbit Sekuritas tertanggal 12 Oktober 2026.
Baca Juga: NexAI (MGLV) Keluar dari Daftar HSC, Prospek Saham Masih Dibayangi Risiko Ekspansi Segmen migas jadi pendorong margin ISSP Pengembangan Plant 7 diproyeksikan meningkatkan volume penjualan pipa ISSP sebesar 19% secara tahunan (
year on year/YoY) pada 2027 dan 10% pada 2028. Sekitar 40% dari tambahan volume tersebut diperkirakan menyasar segmen migas. Dengan perkembangan tersebut, kontribusi penjualan ke segmen migas diproyeksikan naik dari 5% menjadi 10% pada 2027 dan 18% pada 2028. Segmen migas dinilai memiliki profitabilitas lebih tinggi dibandingkan segmen lainnya. Karena itu, peningkatan kontribusinya diperkirakan mendorong margin laba kotor ISSP dari sekitar 20% saat ini menjadi 22%–23% dalam dua tahun mendatang. Edi dan Christian menilai penetrasi ISSP ke segmen migas bukan langkah yang sepenuhnya baru karena perusahaan telah memiliki portofolio di pasar tersebut. “Proyek-proyek migas memiliki kecenderungan memakai struktur konsorsium (multi-vendors), sehingga ISSP tidak perlu menjadi supplier utama untuk bisa terlibat,” tulis keduanya.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Gabungkan Dua Anak Usaha, Ini Rinciannya Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai Unit 7 menyasar segmen pipa migas dengan harga jual lebih premium. Strategi ini berpotensi meningkatkan volume penjualan sekaligus margin perusahaan. “Namun, realisasinya bergantung pada utilisasi pabrik, perolehan kontrak, dan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (14/10/2026). Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, prospek kinerja ISSP hingga 2027 didukung pengembangan infrastruktur energi, jaringan gas, dan proyek industri domestik. Meski demikian, perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari volatilitas harga bahan baku baja, persaingan produk impor, pelemahan rupiah, hingga kebutuhan modal kerja untuk mendukung ekspansi. “Oleh karena itu, investor perlu mencermati realisasi kontrak penjualan, tingkat utilisasi Unit 7, arus kas, dan perkembangan margin laba,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).
Baca Juga: Belanja Eksplorasi Berlanjut, Simak Prospek Saham BRMS, ARCI, EMAS, ENRG, DEWA Saham ISSP berpotensi menuju Rp 600 Sejalan dengan prospek pertumbuhan kinerja, Edi dan Christian menghitung saham ISSP berpotensi mencapai Rp 600 per saham. Target tersebut didasarkan pada proyeksi laba bersih Rp 870 miliar pada 2027 dan valuasi
price to earnings ratio (PER) sebesar 5 kali, mengacu pada rata-rata historis lima tahun serta valuasi ISSP saat ini, tanpa mengasumsikan kenaikan valuasi (re-rating). Selain potensi kenaikan harga saham, ekspansi juga diperkirakan membuka ruang peningkatan pembagian dividen. Untuk tahun buku 2027, dividen ISSP diproyeksikan mencapai Rp 43 per saham dengan asumsi rasio pembayaran dividen (
dividend payout ratio/DPR) sebesar 35%. Sementara itu, untuk tahun buku 2028, dividen diperkirakan naik menjadi Rp 63 per saham dengan asumsi DPR sebesar 40%.
Baca Juga: Imbal Hasil Global Turun, Lelang SUN Domestik Justru Laris Manis Diserbu Investor Sebagai gambaran, saham ISSP ditutup pada level Rp 428 per saham pada 14 Oktober 2026. Berdasarkan data yang disampaikan, DPR saat ini berada di level 26,90% dengan dividend yield sebesar 4,67%. Elandry menilai tantangan utama ISSP adalah memastikan tambahan kapasitas produksi dapat diserap pasar tanpa mengorbankan margin keuntungan.
Menurut dia, ISSP menarik untuk dicermati karena memiliki peluang pertumbuhan laba dan kenaikan valuasi. Namun, investor tetap perlu menunggu konfirmasi pertumbuhan laba yang konsisten. Elandry pun merekomendasikan akumulasi bertahap saham ISSP dengan target harga Rp 600 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News