Ekspansi Raksasa Kereta Api Stadler Asal Swiss ke Asia, Indonesia Jadi Mata Rantai



KONTAN.CO.ID - BUSSNANG. Pasar Asia bagi perusahaan raksasa perkeretaapian asal Swiss, Stadler Rail Management AG (Stadler), memiliki arti yang sangat penting. Perusahaan dengan pendapatan senilai Franc Swiss (CHF) 3,7 miliar atau setara Rp 81,79 triliun (Kurs CFH 1=Rp 22.106) ini, menyebut telah menetapkan strategi untuk mengelola pasar Asia.

Berbicara kepada para jurnalis dari Grup Media KOMPAS di kantornya, di Bussnang, Swiss, manajemen Stadler mengatakan perlunya kerja sama yang lebih erat dengan Indonesia. 

"Selain populasi penduduk Indonesia yang besar, politik program pengembangan infrastruktur kereta api di Indonesia, mendorong kami berdiskusi lebih dalam," tutur Stefan Rutishauser, Area Marketing & Sales Director New Markets Stadler Rail Management AG, Rabu (24/6/2026).


Baca Juga: Chery Sales Indonesia Kantongi Lebih dari 3.000 Pre-book Chery Q

Stadler sendiri bukan mitra baru bagi Indonesia. Bersama PT Industri Kereta Api (INKA), Stadler telah mendirikan perusahaan patungan bernama PT Stadler INKA Indonesia. Perusahaan ini telah membangun pabrik produksi, di Banyuwangi sejak tahun 2019.

Guna memenuhi kebutuhan sumber daya manusia, INKA dan Stadler telah membangun Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). Poltek ini, berfokus pada sistem vokasi (Sarjana Terapan/D-IV) dengan kurikulum berbasis praktik (60% praktik, 40% teori) yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi tinggi Stadler dan INKA.

Stadler telah mengadaptasi model Pendidikan ini di berbagai pasar, semisal Kazakhstan, Polandia, dan Amerika Serikat.

Stadler mengembangkan silabus pendidikannya, sehingga selalu akan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi terbaru. Pelatihan kejuruan memungkinkan transfer model Stadler ke lokasi baru dengan menghasilkan staf yang memahami teori dan praktik spesifik proyek.

Baca Juga: Industri Baja Tertekan Akibat Implementasi HGBT Belum Optimal

Tingkat keterampilan dan pendidikan menjadi sangat penting bagi Stadler untuk membangun dan meningkatkan skala bisnis mereka di pasar yang baru. 

Stadler tidak akan membawa produk jadi kereta api dari basis produksi di Eropa, untuk mengisi pasar Asia. "Itu bukan model bisnis yang berkelanjutan," tandas Stefan.

Di wilayah tersebut (Asia), Stefan menandaskan perlunya mendirikan basis produksi manufaktur, dan Indonesia menjadi salah satu pilihan. Berbeda dengan negara lain, yang hanya ingin membawa produknya ke Indonesia, Stadler membuatnya di Indonesia.

Pada siaran pers 20 September 2019 silam, Peter Spuhler Chairman of the Board of Directors Stadler kala itu mengatakan bahwa PT INKA telah menemukan mitra profesional untuk usaha patungan ini.

"Lokasi produksi baru di Indonesia memperkuat masuknya Stadler ke pasar Asia dan menciptakan kondisi terbaik untuk mencapai pertumbuhan di kawasan ini," terangnya Peter kala itu.

Pengelolaan bisnis Stadler yang baik, tergambar dari kinerja perusahaannya yang menarik. Jika pendapatan Stadler tahun 2025 naik 13% year on year (YoY), maka laba bersih perusahaan ini mampu tumbuh hampir dua kali lipat menjadi CHF 100,7 juta atau setara Rp 2,23 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News