KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Siloam International Hospitals Tbk (
SILO) dinilai masih positif hingga akhir tahun 2026, seiring strategi ekspansi layanan berbasis teknologi dan digitalisasi medis. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, kinerja SILO ke depan akan ditopang oleh peningkatan volume pasien dan pengembangan layanan spesialis. “Kami menilai prospek SILO hingga akhir 2026 tetap positif, didukung peningkatan volume pasien, perluasan layanan spesialis, serta investasi pada digitalisasi dan teknologi medis,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Ekspansi Fiber Perkuat Prospek Mitratel (MTEL), Cek Rekomendasi Analis Ia menambahkan, potensi pasar pasien Indonesia yang selama ini berobat ke luar negeri juga menjadi katalis jangka panjang, meskipun kontribusinya masih akan berlangsung secara bertahap. Dari sisi operasional, adopsi teknologi bedah robotik dinilai dapat meningkatkan pendapatan per pasien (
revenue per inpatient), seiring kemampuan perseroan menawarkan layanan dengan kompleksitas dan nilai tambah lebih tinggi. Selain itu, teknologi tersebut juga dapat memperkuat posisi SILO sebagai rumah sakit rujukan, khususnya untuk segmen pasien premium.
Meski demikian, dampak terhadap margin laba diperkirakan belum akan terlihat dalam waktu dekat. “Dampak terhadap margin kemungkinan baru akan terlihat setelah tingkat utilisasi alat meningkat dan volume tindakan mencapai skala ekonomis,” jelasnya. Dalam jangka pendek, belanja modal (capex) yang besar berpotensi menekan profitabilitas, terutama melalui peningkatan beban depresiasi dan biaya operasional.
Baca Juga: Kinerja Siloam International (SILO) Dinilai Solid, Cermati Rekomendasi Analis Namun demikian, kondisi keuangan SILO dinilai masih cukup solid karena ekspansi tersebut didanai dari kas internal, sehingga risiko terhadap struktur keuangan relatif terbatas. Dalam jangka menengah hingga panjang, investasi ini berpotensi memberikan imbal hasil positif apabila mampu meningkatkan volume pasien, layanan berteknologi tinggi, serta efisiensi operasional. Dari sisi kebijakan, Azis menilai langkah SILO untuk tidak membagikan dividen masih tepat, selama dana yang ditahan dapat menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang optimal. “Kebijakan
zero dividend masih tepat selama dana yang ditahan dapat menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi dibandingkan pembagian dividen,” imbuhnya.
Baca Juga: Ekspansi Mitra Keluarga (MIKA) Dorong Prospek Jangka Panjang, Ini Rekomendasi Analis Namun untuk saat ini, ia masih merekomendasikan investor untuk bersikap hati-hati terhadap saham SILO. “Kami merekomendasikan netral dengan pendekatan
wait and see, karena harga saham masih berada dalam tren penurunan,” katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News