KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) terus memperluas kapasitas layanan kesehatan dengan menyiapkan pembukaan tiga rumah sakit baru hingga kuartal I-2027. Ekspansi tersebut akan menambah sekitar 400 tempat tidur dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan MIKA ke depan. Analis sekaligus
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai penambahan tiga rumah sakit tersebut cukup strategis untuk memperbesar kapasitas dan volume pasien MIKA. Dua rumah sakit akan mulai beroperasi di Jabodetabek pada kuartal IV-2026, sementara satu rumah sakit di Jawa Timur dijadwalkan beroperasi pada kuartal I-2027. “Penambahan tiga rumah sakit dengan sekitar 400 tempat tidur cukup strategis untuk memperbesar kapasitas dan volume pasien MIKA,” kata Elandry kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Meski demikian, kontribusi rumah sakit baru diperkirakan tidak langsung maksimal karena membutuhkan waktu untuk meningkatkan utilisasi. Menurut Elandry, dampak ekspansi secara lebih penuh baru akan terlihat sepanjang 2027.
Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Kantongi Kontrak Baru Rp 8,05 Triliun per Juli 2026 Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai tambahan kapasitas tersebut berpotensi memberikan kenaikan volume pasien yang signifikan. Pasalnya, 400 tempat tidur setara sekitar 47% dari total kapasitas eksisting MIKA yang mencapai 857 tempat tidur. “Signifikan mengingat penambahan 400 bed setara sekitar 47% dari total kapasitas eksisting 857 bed, mendekati potensi tambahan hampir setengah dari basis kapasitas saat ini,” kata Abida. Dua rumah sakit di Jabodetabek masing-masing memiliki kapasitas sekitar 200 tempat tidur dan akan beroperasi pada kuartal IV-2026. Sementara itu, satu rumah sakit di Jawa Timur akan menyusul pada kuartal I-2027. Abida menilai ramp-up tingkat okupansi tidak akan berlangsung instan karena rumah sakit baru membutuhkan waktu untuk membangun basis pasien. Namun, lokasi strategis serta
brand recognition Mitra Keluarga yang telah kuat dapat mempercepat proses akuisisi pasien dibandingkan kompetitor baru. Dari sisi margin, Elandry menilai ekspansi belum tentu langsung mendorong perbaikan gross margin. Pada tahap awal, rumah sakit baru biasanya membawa tambahan biaya operasional ketika tingkat utilisasinya belum optimal. “Dari sisi gross margin, ekspansi belum tentu langsung memberikan perbaikan karena pada fase awal RS baru biasanya membawa tambahan
operating cost dan utilisasinya belum optimal,” ujar Elandry. Meski begitu, margin MIKA berpeluang membaik secara bertahap apabila utilisasi rumah sakit baru meningkat. Selain itu, kontribusi layanan dengan kompleksitas lebih tinggi yang memiliki
revenue intensity lebih baik juga dapat mendukung pemulihan margin. Dari sisi tersebut, Abida melihat ekspansi MIKA berpotensi mendukung pemulihan gross margin secara struktural. Basis pasien swasta MIKA telah mendominasi 90% pada semester I-2026, meningkat dari 88% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, proporsi pasien yang tercover asuransi naik menjadi 62% dari 58%. “Fokus ekspansi pada layanan spesialis dan kasus klinis kompleks yang bermargin lebih tinggi memperkuat tesis bahwa RS baru akan memperbaiki bauran pendapatan, bukan sekadar menambah volume kuantitas semata,” ujar Abida. Abida menambahkan, EBITDA margin MIKA saat ini mencapai 38,3%, sedangkan net profit margin berada di level 26,3%. Sementara itu, Elandry memperkirakan kinerja MIKA hingga akhir 2026 masih berpotensi tumbuh positif. Namun, kontribusi rumah sakit baru kemungkinan belum terlalu besar karena sebagian baru mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. “Momentum pertumbuhan lebih menarik untuk dicermati pada 2027, ketika tambahan kapasitas mulai memberikan kontribusi lebih penuh,” jelas Elandry. Sebagai gambaran, pada semester I-2026 pendapatan MIKA tumbuh sekitar 8% secara tahunan menjadi Rp2,77 triliun. Pada periode yang sama, laba bersih tumbuh sekitar 7% secara tahunan menjadi Rp684 miliar. Dari sisi katalis, Elandry menyebut peningkatan utilisasi tempat tidur, pertumbuhan pasien swasta dan asuransi, serta meningkatnya layanan spesialis dan kasus dengan kompleksitas tinggi sebagai sejumlah faktor yang perlu dicermati. MIKA juga memiliki posisi kas yang kuat sehingga ekspansi dinilai relatif lebih
manageable. Namun, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, seperti proses ramp-up rumah sakit baru yang lebih lambat dari ekspektasi, kenaikan biaya tenaga medis dan alat kesehatan, tekanan rupiah terhadap komponen impor, serta persaingan industri rumah sakit yang semakin ketat.
Untuk saham, Elandry masih melihat MIKA cukup menarik secara fundamental dengan karakter defensif dan ekspansi yang dapat menjad
i growth driver pada 2027. Ia memberikan pandangan
Buy on Weakness dengan target harga indikatif Rp3.000 hingga Rp3.200 per saham. Menurut Elandry, kecepatan utilisasi rumah sakit baru dan pemulihan margin menjadi indikator utama yang perlu dicermati untuk mengonfirmasi prospek pertumbuhan MIKA ke depan.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah Tipis 0,03% ke Rp 17.699 per Dolar AS pada Rabu (16/9) Siang Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News