Ekspektasi Kebijakan The Fed, Begini Proyeksi Rupiah untuk Senin (22/6/2026)



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Jumat (19/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,06% secara harian ke Rp 17.804 per dolar AS. 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah di level Rp 17.826 per dolar AS, nilai ini sama dengan nilai pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya (18/6/2026). 

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan pada awal pekan nanti, pasar biasanya masih akan merespons "gema" dari keputusan FOMC (Federal Reserve) yang baru saja dirilis. Mengingat sinyal hawkish dari The Fed—di mana sekitar separuh anggota FOMC mengantisipasi kenaikan suku bunga di tahun 2026—tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah, akan tetap terasa. Namun, BI diperkirakan akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas agar pergerakan tidak terlalu liar.


Baca Juga: IHSG Ditutup di 6.177, Cek Saham Net Buy & Net Sell Terbesar Asing Sepekan Terakhir

“Secara teknikal dan fundamental, rupiah kemungkinan besar masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cenderung fluktuatif, diperkirakan berada di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.950 per dolar AS,” ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (19/6/2026). 

Sutopo melihat ada tiga poin krusial yang akan menjadi penggerak pasar, termasuk rupiah pada hari Senin nanti. Antara lain dampak lanjutan Kebijakan The Fed. Pasar akan terus mencerna prospek kebijakan moneter AS ke depan. Sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi di tahun 2026 memperkuat posisi dolar AS (DXY). Setiap penguatan dolar global akan otomatis menekan Rupiah, sehingga investor akan sangat sensitif terhadap pernyataan pejabat The Fed lainnya atau data ekonomi AS yang muncul awal pekan.

Lalu, respons pasar terhadap kebijakan devisa baru. Efektif per 1 Juli 2026, BI memperketat aturan devisa (threshold dokumen ekspor dan limit cash valas). Meski berlaku bulan depan, Sutopo menilai pelaku pasar biasanya mulai memposisikan diri lebih awal. Sentimen ini bersifat double-edged: di satu sisi, ini adalah upaya BI untuk memperkuat cadangan devisa (sentimen positif), namun di sisi lain, pengetatan likuiditas valas sering kali membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam jangka pendek.

Selanjutnya, ketidakpastian geopolitik dan MSCI Review. Meski sudah ada interim peace agreement antara AS dan Iran, pasar akan memantau apakah ada perkembangan baru terkait stabilitas di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi harga energi global. Selain itu, sentimen terkait status Emerging Market Indonesia pasca-review MSCI tetap membayangi; setiap aliran modal keluar (capital outflow) dari investor asing akibat sentimen ini akan memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar. 

Sutopo memperkirakan rupiah pada Senin (22/6) berada di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.950 per dolar AS. 

Baca Juga: OJK: MSCI Global Market Accessibility Review Jadi Masukan Guna Perkuat Pasar Modal RI

Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX memproyeksikan nilai tukar rupiah pada awal pekan depan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp17.700 – Rp17.860 per dolar AS. Meski Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, rupiah masih ditutup melemah ke level Rp17.804 per dolar AS. 

“Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah,” ucap Amru. 

Di sisi lain, kenaikan BI-Rate diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar, meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik, serta membantu meredam tekanan pelemahan rupiah. Sejak Mei 2026, Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar total 100 basis poin sebagai langkah memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dari sisi eksternal, dolar AS masih bertahan kuat setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya dan memberikan sinyal bahwa suku bunga berpotensi tetap tinggi lebih lama. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi turut menopang permintaan terhadap aset berbasis dolar AS. “Kondisi tersebut membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” kata Amru. 

Pada perdagangan Senin nanti, Amru mengatakan bahwa pasar juga akan mencermati perkembangan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan memulihkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. “Dengan demikian, perkembangan hubungan AS–Iran, pergerakan harga minyak dunia, kekuatan dolar AS, yield obligasi AS, serta sentimen terkait MSCI akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah pada awal pekan depan,” jelas Amru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News