Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Oktober Merosot, Pasar Bidik Desember



KONTAN.CO.ID - Sejumlah pejabat senior Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan akhir Oktober.

Pernyataan tersebut mendorong investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 27–28 Oktober mendatang.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan belum ada kebutuhan mendesak untuk mengubah arah kebijakan moneter saat ini.


Baca Juga: Arab Saudi Tuding Houthi Serang Gardu Listrik Dekat Masjid Nabawi

Menurut dia, The Fed perlu mencermati perkembangan data ekonomi sebelum menentukan langkah berikutnya.

"Tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru" dalam mengubah pengaturan kebijakan moneter saat ini, kata Williams dalam acara di University at Buffalo, Selasa (29/9/2026).

Williams, yang juga menjabat wakil ketua FOMC, mengatakan satu kali kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan tepat dilakukan menjelang akhir tahun.

Sinyal serupa disampaikan Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson pada Kamis (1/10). Ia mengatakan, setiap penyesuaian kebijakan berikutnya harus ditentukan dengan mencermati tren data, perubahan prospek ekonomi serta keseimbangan risiko.

Menurut Jefferson, kenaikan imbal hasil obligasi sejak The Fed menaikkan suku bunga pada September menunjukkan pasar sedang menyesuaikan kembali ekspektasinya terhadap prospek ekonomi dan kebijakan moneter.

Ia menambahkan bahwa para pejabat The Fed membutuhkan lebih banyak waktu dan data untuk menentukan arah kebijakan berikutnya.

Baca Juga: Negara Masih Dilanda Kesulitan Pangan, Kim Jong Un Diprediksi Obesitas

Peluang Kenaikan Oktober Menurun

Pernyataan Williams dan Jefferson mengubah ekspektasi pasar secara signifikan. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sekitar 25%, turun dari sekitar 70% pada awal pekan.

Data inflasi juga menjadi pertimbangan. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pada Agustus naik 3,4% secara tahunan, masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, tetapi tidak lebih tinggi dibandingkan kenaikan pada Juli.

Sejumlah perusahaan broker global kini mayoritas memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga satu kali lagi tahun ini, yakni pada Desember, bukan Oktober.

The Fed sebelumnya menaikkan target suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan pertengahan September menjadi 3,75%–4%. Para pejabat bank sentral AS saat itu memproyeksikan satu kali kenaikan tambahan hingga akhir tahun.

Baca Juga: Inflasi Inti Tokyo Naik 2,7%, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Menguat

Namun, pandangan di internal The Fed masih beragam.

Presiden Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan menyebut kenaikan suku bunga September sebagai "langkah pertama". Ia mengatakan setidaknya tambahan kenaikan 50 basis poin diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.

Di sisi lain, Logan tidak memberikan sinyal mengenai waktu spesifik untuk kenaikan berikutnya. Ia mengatakan akan mempertimbangkan kondisi keuangan sekaligus data ekonomi untuk menentukan kapan tingkat suku bunga sudah cukup tinggi untuk menekan inflasi.

Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari juga mengatakan belum memiliki pandangan kuat apakah kenaikan berikutnya harus dilakukan pada akhir Oktober.

Namun, proyeksinya saat ini masih mencakup satu kenaikan suku bunga tahun ini dan satu kenaikan lagi pada tahun depan.

Baca Juga: Jadwal Indonesia di Asian Games 2026, Jumat (2/10): Ada Banyak Peluang Medali

Data Tenaga Kerja Jadi Perhatian

Pergerakan imbal hasil obligasi jangka panjang juga menjadi perhatian The Fed. Imbal hasil Treasury 10 tahun meningkat dalam beberapa pekan terakhir seiring data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan dan kenaikan harga minyak.

Logan mengatakan kenaikan imbal hasil menunjukkan investor masih memperhitungkan adanya kenaikan suku bunga tambahan.

Namun, sebagian kenaikan tersebut juga dapat berasal dari meningkatnya premi jangka panjang atau term premium.

Kondisi tersebut justru dapat memperketat kondisi keuangan dan memperlambat perekonomian, sehingga mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih agresif.

Baca Juga: Pejabat The Fed Lorie Logan Serukan Kenaikan Suku Bunga Setidaknya 50 Bps Lagi

Data utama berikutnya yang akan menjadi perhatian pejabat The Fed adalah laporan ketenagakerjaan AS September.

Dengan data perekrutan yang belakangan relatif stabil, pejabat The Fed sebelumnya mengatakan mereka memiliki ruang untuk lebih memusatkan kebijakan moneter pada upaya mengendalikan inflasi.