Ekspor Anggur Australia Menyusut pada 2025, Konsumsi Alkohol Global Terus Turun



KONTAN.CO.ID - Nilai ekspor anggur Australia tercatat menurun sepanjang 2025 seiring tren penurunan konsumsi alkohol secara global.

Melansir Reuters Rabu (28/1/2026), Lembaga industri Wine Australia melaporkan, nilai ekspor anggur Negeri Kanguru turun 8% menjadi A$2,34 miliar atau sekitar US$1,6 miliar.

Australia saat ini merupakan eksportir anggur terbesar kelima di dunia. Namun, seperti banyak negara produsen anggur lainnya, Australia tengah menghadapi kelebihan pasokan (oversupply) dan melemahnya permintaan, terutama di pasar utama seperti China dan Inggris.


Baca Juga: Bisnis Pengantaran Makanan di Asia Tenggara Mencapai Rp 379,93 triliun di 2025

Kepala analisis pasar Wine Australia, Peter Bailey, mengatakan penurunan konsumsi alkohol dipicu oleh perubahan gaya hidup konsumen yang semakin sadar kesehatan, serta tekanan biaya hidup yang mendorong masyarakat mengurangi belanja non-esensial.

“Konsumen mengurangi konsumsi alkohol secara keseluruhan seiring tren gaya hidup sehat dan upaya menghemat pengeluaran di tengah meningkatnya biaya hidup,” ujar Bailey, Rabu (28/1).

Selain itu, Bailey menambahkan, hambatan perdagangan dan konflik regional di berbagai belahan dunia turut membuat ekspor anggur semakin sulit dan mahal bagi produsen global.

Dari sisi pasar tujuan, China yang selama ini menjadi pasar paling menguntungkan bagi anggur Australia mencatat penurunan paling tajam. Nilai ekspor ke China anjlok 17% sepanjang 2025 menjadi A$755 juta atau sekitar US$530 juta.

Padahal, produsen anggur Australia sempat mencatat lonjakan penjualan ke China pada 2024 setelah Beijing mencabut tarif impor yang sebelumnya menghambat perdagangan.

Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Baru di US$ 5.209, Begini Kata World Gold Council

Namun, penurunan cepat permintaan anggur di China kini kembali menekan kinerja ekspor.

“Pasar anggur China kini hanya sekitar sepertiga dari ukurannya lima tahun lalu,” kata Bailey.

Kondisi ini menegaskan tantangan struktural yang dihadapi industri anggur global, di mana perubahan perilaku konsumen, tekanan ekonomi, dan dinamika geopolitik semakin memengaruhi permintaan jangka panjang.

Selanjutnya: Bisnis Pengantaran Makanan di Asia Tenggara Mencapai Rp 379,93 triliun di 2025

Menarik Dibaca: Dynamite Kiss dan 6 Drakor Ini Punya Adegan Ciuman Paling Intim, Berani Nonton?