Ekspor Batubara Semester II-2026 Diproyeksi Solid, Harga di Atas US$ 100 per Ton



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja ekspor batubara Indonesia diproyeksi masih solid pada semester II-2026, dengan harga yang masih kuat bergerak di atas US$ 100. 

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira mengungkapkan, pada paruh kedua 2026 permintaan batubara masih akan tumbuh, tetapi lebih moderat dibanding beberapa tahun terakhir. Dia memprediksi permintaan di pasar ekspor akan naik sekitar 2% – 4% dibandingkan semester I-2026. 

Sementara itu, soal harga, dengan harga batubara acuan (HBA) periode pertama Agustus 2026 yang berada di level US$ 124,44 per ton, sedangkan  harga acuan global berada di level US$ 128,2 per ton, maka rata-rata acuan harga batubara diperkirakan akan mencapai US$ 120 - US$ 130 per ton pada kuartal III-2026. 


Baca Juga: GIIAS 2026 Ditutup, Persaingan Merek Otomotif di Indonesia Makin Sengit

Namun memasuki kuartal IV-2026, harga akan berpotensi mulai mengalami normalisasi ke level US$ 110 - US$ 120 per ton, seiring berakhirnya permintaan musiman dan meningkatnya pasokan dari beberapa negara produsen. 

"Peluang harga bertahan di atas US$ 120 per ton masih ada, tetapi tidak sepanjang semester kedua. Skenario yang lebih realistis adalah harga akan berfluktuasi dan tetap berada pada kisaran di atas US$ 100 per ton, kecuali terjadi guncangan geopolitik yang lebih besar atau gangguan pasokan global," terang Anggawira Jumat (7/8/2026).

Sementara itu, Ekonom & Manajer Riset Strategis Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet memprediksi prospek permintaan batubara masih akan selektif pada sisa tahun ini. China dan India tetap menjadi pasar utama, tetapi keputusan impor kedua negara tersebut akan bergantung pada kondisi stok, produksi domestik, dan kebutuhan listrik.  

"Permintaan dari Asia Tenggara berpotensi tetap tumbuh, namun secara keseluruhan saya belum melihat ruang bagi volume ekspor untuk meningkat signifikan kecuali ada relaksasi kuota produksi atau lonjakan permintaan musiman," ungkap Yusuf.

Yusuf memperkirakan harga batubara masih akan bergerak dalam fase konsolidasi pada sisa tahun ini. HBA awal Agustus dan indeks Newcastle memang masih berada di atas US$ 120 per ton. Tetapi, level harga keduanya sudah terkoreksi dari puncaknya. 

"Ini menunjukkan premi risiko geopolitik mulai mereda dan pasar kembali dipengaruhi faktor fundamental," ujar Yusuf.

Dalam skenario tersebut, Yusuf memperkirakan harga batubara akan bergerak pada kisaran US$ 110 – US$ 125 per ton, dengan peluang yang masih terbuka lebar untuk tetap berada di atas US$ 100 per ton. "(Harga batubara) di atas US$ 120 per ton hanya mungkin jika terjadi gangguan pasokan global seperti eskalasi geopolitik, cuaca ekstrem, atau lonjakan permintaan listrik," jelasnya.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono punya catatan serupa. Sudirman memperkirakan ekspor batubara masih akan menghadapi tekanan dari sisi volume akibat penyesuaian kuota produksi dan normalisasi permintaan global. Meski begitu, Sudirman memprediksi nilai kumulatif ekspor masih akan ditopang oleh stabilitas harga. 

"Negara pembeli batubara Indonesia seperti China dan India mulai menunjukkan selektifitas tinggi dengan melirik pasokan alternatif atau mengandalkan peningkatan produksi domestik mereka sendiri. Dinamika penyesuaian kuota turut menjadi sentimen yang dicermati para pelaku usaha dan emiten produsen batubara," kata Sudirman.

Baca Juga: Pembangunan Gedung DPR IKN Masuk Tahap Struktur

Sudirman menambahkan, kenaikan harga batubara membawa angin segar terhadap kinerja keuangan perusahaan tambang. Lonjakan harga dapat mendongkrak pendapatan kotor dan margin laba bersih, serta memperkuat arus kas operasional. 

Hanya saja, ada beberapa hambatan dan risiko yang juga yang dihadapi oleh perusahaan. Antara lain, kenaikan harga komoditas global kerap memicu inflasi biaya alat berat, bahan bakar solar, serta komponen pendukung penambangan. 

"Selain itu kebijakan pemerintah seperti pembatasan RKAB membatasi kapasitas produksi sehingga perusahaan tidak selalu bisa memanfaatkan momentum harga tinggi secara maksimal," ujar Sudirman.

Asal tahu saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batubara Indonesia menyusut pada paruh pertama 2026. Penjualan batubara ke luar negeri turun menjadi 172,45 juta ton sepanjang Januari - Juni 2026.

Volume ekspor batubara turun 6,37% dibandingkan periode Januari - Juni 2025, yang kala itu mencapai 184,20 juta ton. 

Secara nilai, ekspor batubara Indonesia sepanjang Januari - Juni 2026 mencapai US$ 12,04 miliar. Naik tipis 0,63% dibandingkan raihan US$ 11,96 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News