KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah mengekspor beras ke sejumlah negara, termasuk Singapura, dinilai menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian nasional. Namun, Indonesia dinilai belum dapat bersaing di pasar beras massal karena masih kalah dari Vietnam dan Thailand dari sisi efisiensi biaya maupun daya saing produk. Pengamat Pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian mengatakan, peluang ekspor beras Indonesia masih terbuka apabila menyasar segmen premium atau pasar khusus (
niche market), bukan pasar beras konsumsi massal yang sensitif terhadap harga. "Indonesia saat ini belum sepenuhnya kompetitif untuk ekspor massal ke Singapura di segmen standar atau harga rendah. Harga beras kita lebih mahal karena biaya produksi lebih tinggi, sementara kualitas, khususnya aroma dan
positioning, masih berada di bawah Thailand maupun Vietnam," ujar Eliza kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).
Baca Juga: Laba Bersih Soraya Berjaya (SPRE) Merosot 59,7% pada Kuartal I-2026, Ini Penyebabnya Menurutnya, beras yang saat ini banyak tersimpan di gudang Bulog didominasi beras medium. Kondisi tersebut membuat Indonesia relatif sulit bersaing di pasar massal yang selama ini dikuasai Vietnam dan Thailand. Karena itu, Eliza menilai strategi ekspor sebaiknya difokuskan pada beras premium dengan mengedepankan nilai tambah, seperti varietas lokal, keberlanjutan (
sustainability), hingga cerita asal-usul (origin story). Segmen tersebut dinilai lebih berpotensi menyasar pasar hotel, restoran, dan katering (HOREKA). "Kalau targetnya pasar
niche, peluangnya masih terbuka lebar. Tetapi kalau menyasar pasar konsumsi massal, Indonesia harus mampu bersaing dengan Thailand dan Vietnam. Kuncinya bukan hanya pada volume produksi, tetapi juga kualitas dan efisiensi biaya produksi," katanya. Meski demikian, Eliza menilai rencana ekspor beras tetap menjadi momentum positif untuk memperkuat posisi Indonesia di perdagangan regional. Namun, keberhasilannya tidak cukup hanya mengandalkan surplus produksi yang terjadi saat ini. "Ambisi ekspor beras merupakan langkah positif. Tapi keberhasilannya bergantung pada perbaikan fundamental, terutama efisiensi dan kualitas. Tanpa itu, kita akan terus kalah bersaing dengan Vietnam dan Thailand yang sudah lebih efisien dan mapan," ujarnya.
Baca Juga: PLN IP Tambah Tiga Unit Pembangkit, Penjualan Listrik Tembus 82,17 TWh pada 2025 Ia menambahkan, surplus produksi beras saat ini dipengaruhi kombinasi kondisi cuaca yang mendukung serta berbagai insentif pemerintah kepada petani sepanjang 2025 yang mendorong peningkatan luas tanam dan produksi. Meski prospek produksi masih positif, Eliza mengingatkan ancaman perubahan iklim, khususnya potensi El Nino yang lebih panjang dan kering pada tahun-tahun mendatang, perlu diantisipasi agar surplus tidak hanya bersifat sementara. Menurutnya, keberlanjutan produksi bergantung pada kemampuan sektor pertanian meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serangan hama, dan risiko kekeringan. Dalam jangka pendek, pemerintah dinilai perlu menjaga lahan pertanian eksisting, mempercepat pembangunan irigasi, memperluas penggunaan benih tahan kekeringan, serta menjaga stok beras pemerintah. Sementara dalam jangka menengah, reformasi struktural seperti konsolidasi lahan, pengembangan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, hilirisasi produk pertanian, hingga pemberian insentif yang mendorong efisiensi petani menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi. "Surplus 2025-2026 ini merupakan
window of opportunity. Kalau tidak dimanfaatkan untuk investasi membangun resiliensi pertanian, kita berisiko kembali ke pola boom-bust, yaitu swasembada sesaat lalu kembali bergantung pada impor," katanya. Sebelumnya, pemerintah mulai membuka peluang ekspor beras setelah produksi dalam negeri menunjukkan tren positif. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menawarkan ekspor sedikitnya 10.000 ton beras premium kepada Singapura dalam pertemuan dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu Hai Yien, Senin (29/6/2026). Penawaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar beras Indonesia di kawasan regional. Menindaklanjuti tawaran tersebut, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan perseroan siap apabila pemerintah menugaskan Bulog untuk memasok kebutuhan beras ke Singapura. Menurutnya, Bulog saat ini telah menyiapkan sekitar 200.000 ton beras premium dengan tingkat patahan 5% yang dapat segera dikirim apabila terdapat permintaan dari negara tujuan. "Kita sudah ada stok standby 200.000 ton beras premium pecahan 5%. Jika sewaktu-waktu diminta kirim cepat, kita bisa langsung lakukan," ujar Rizal.
Selain Singapura, Bulog juga tengah menjajaki peluang ekspor ke Malaysia dan Uni Emirat Arab. Untuk Malaysia, proses ekspor sekitar 500.000 ton beras telah memasuki tahap finalisasi harga. Sementara itu, Uni Emirat Arab disebut memiliki kebutuhan sekitar 50.000 ton beras per bulan atau setara 600.000 ton per tahun, yang dinilai menjadi peluang bagi beras Indonesia. Rizal menegaskan rencana ekspor tersebut tidak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan beras dalam negeri. Hingga 29 Juni 2026, Bulog telah menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras atau sekitar 80% dari target pengadaan sebanyak 4 juta ton tahun ini. Dengan sisa waktu enam bulan hingga akhir tahun, Bulog memperkirakan realisasi serapan dapat mencapai 4,5 juta ton hingga 5 juta ton. "Tingginya serapan tersebut perlu diimbangi dengan penyaluran, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun melalui ekspor. Kami berharap beras Indonesia dapat semakin diterima di pasar internasional," kata Rizal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News