KONTAN.CO.ID - BEIJING. Kinerja ekspor China mulai kehilangan tenaga. Setelah melesat tinggi di awal tahun, pertumbuhan ekspor Negeri Tirai Bambu ini melambat tajam pada Maret 2026, menandakan tekanan baru dari gejolak global kian terasa. Data terbaru menunjukkan ekspor China hanya tumbuh 2,5% secara tahunan (yoy), jauh di bawah capaian Februari yang hampir menyentuh 40% yoy. Angka ini juga meleset dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 8,6%. Di sisi lain, impor justru melonjak 28% yoy, membuat surplus perdagangan menyusut menjadi US$ 51 miliar, terendah dalam lebih dari setahun. Melansir Bloomberg (14/4), perlambatan ini tak lepas dari guncangan besar di pasar energi global akibat konflik Iran. Penutupan efektif Selat Hormuz jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia telah mendorong lonjakan biaya bahan baku industri. Dampaknya langsung terasa pada margin pabrik-pabrik China, terutama yang berorientasi ekspor.
Ekspor China Kehilangan Tenaga, Sinyal Risiko Ekonomi
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Kinerja ekspor China mulai kehilangan tenaga. Setelah melesat tinggi di awal tahun, pertumbuhan ekspor Negeri Tirai Bambu ini melambat tajam pada Maret 2026, menandakan tekanan baru dari gejolak global kian terasa. Data terbaru menunjukkan ekspor China hanya tumbuh 2,5% secara tahunan (yoy), jauh di bawah capaian Februari yang hampir menyentuh 40% yoy. Angka ini juga meleset dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 8,6%. Di sisi lain, impor justru melonjak 28% yoy, membuat surplus perdagangan menyusut menjadi US$ 51 miliar, terendah dalam lebih dari setahun. Melansir Bloomberg (14/4), perlambatan ini tak lepas dari guncangan besar di pasar energi global akibat konflik Iran. Penutupan efektif Selat Hormuz jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia telah mendorong lonjakan biaya bahan baku industri. Dampaknya langsung terasa pada margin pabrik-pabrik China, terutama yang berorientasi ekspor.
TAG: