Ekspor China Melesat Ditopang Boom AI



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Kinerja perdagangan China kembali menunjukkan kekuatan pada Mei 2026. Pertumbuhan ekspor Negeri Tirai Bambu justru semakin kencang di tengah gejolak global akibat konflik Iran yang sempat memicu kekhawatiran terhadap perlambatan permintaan dunia.

Laporan Reuters, data bea cukai China yang dirilis Selasa (9/6) menunjukkan nilai ekspor negara tersebut melonjak 19,4% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 14,1% pada April dan melampaui perkiraan ekonom yang sebelumnya memperkirakan kenaikan sekitar 15%.

Di sisi lain, impor China juga tumbuh kuat sebesar 27,4% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 25,3% pada bulan sebelumnya. Capaian tersebut turut melampaui ekspektasi pasar.


Kuatnya ekspor China ditopang oleh tingginya permintaan global terhadap produk-produk teknologi tinggi, terutama semikonduktor yang menjadi tulang punggung perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Senior China Strategist ANZ, Xing Zhaopeng, mengatakan kenaikan harga chip masih menjadi faktor utama yang menopang ekspor China.

"Harga memori naik sekitar 20% dibanding bulan sebelumnya, sehingga mendorong pertumbuhan ekspor sirkuit terpadu mencapai 111% pada Mei," ujarnya.

Data menunjukkan ekspor peralatan pemrosesan data otomatis China melonjak 66,1% secara tahunan. Sementara itu, ekspor produk teknologi tinggi naik 50,9% dan pengiriman mobil meningkat 39%.

Menurut Xing, gelombang investasi AI global masih akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perdagangan China. "Cerita AI masih jauh dari selesai. Industri chip sedang mengubah lanskap perdagangan China," katanya.

Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Stabil, Namun Kepercayaan Pelaku Usaha Masih Lesu

Lonjakan investasi AI di berbagai negara telah meningkatkan permintaan terhadap semikonduktor untuk pusat data dan perangkat elektronik canggih. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi China yang memiliki basis manufaktur teknologi yang besar.

Meski demikian, sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Data aktivitas manufaktur China pada Mei memperlihatkan pesanan ekspor baru turun tajam setelah mencapai level tertinggi dalam dua tahun pada April lalu.

Kinerja ekspor yang kuat turut membantu ekonomi China tumbuh lebih baik dari perkiraan pada kuartal pertama tahun ini. Namun, lemahnya permintaan domestik masih menjadi perhatian utama karena membuat ekonomi China rentan terhadap pelemahan ekonomi global.

Tekanan internasional terhadap Beijing juga semakin meningkat. Sejumlah negara menilai model pertumbuhan China yang bertumpu pada ekspor dan subsidi industri telah menciptakan ketidakseimbangan dalam perdagangan global.

Laporan terbaru dari Organisation for Economic Cooperation and Development bahkan menyebut hampir 60% peningkatan pangsa pasar perusahaan China dapat dijelaskan oleh dukungan subsidi yang mereka terima.

Sementara itu, riset terbaru dari Federal Reserve System menunjukkan surplus perdagangan China terhadap perekonomian global telah melampaui 1% dari PDB dunia, level yang lebih tinggi dibandingkan puncak yang pernah dicapai Jepang maupun Jerman pada akhir abad ke-20.

Pada Mei 2026, surplus perdagangan China tercatat mencapai US$ 105,43 miliar. Nilai tersebut meningkat dari US$ 84,8 miliar pada April dan melampaui proyeksi pasar sebesar US$ 92,1 miliar.

Baca Juga: Perkuat Poros Beijing-Pyongyang, Kim Jong Un Nyatakan Dukung Penuh Prinsip Satu China