Ekspor dan Impor China Meningkat di Mei 2026, Tapi ke Pasar AS Turun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspor China melonjak 19,4% secara tahunan ke rekor tertinggi sebesar US$ 376,78 miliar pada Mei 2026, jauh melebihi perkiraan 15% dan meningkat tajam dari kenaikan 14,1% pada April. 

Ini merupakan peningkatan tercepat sejak Februari, karena perusahaan terus membangun persediaan untuk mengantisipasi tekanan harga energi yang berasal dari perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah. 

Untuk lima bulan pertama tahun ini, total ekspor China masih naik 15,5% secara tahunan menjadi US$ 1,71 triliun. Selama periode tersebut, ekspor meningkat ke negara-negara ASEAN (20,3%), Uni Eropa (16,4%), Hong Kong (45,5%), Korea Selatan (28,5%), dan Jepang (7,1%), tetapi menurun ke Amerika Serikat (AS) (-2,7%). 


Seperti dikutip Tradingeconomics, Selasa (9/6), impor China juga melonjak 27,4% year-on-year menjadi US$ 271,35 miliar pada Mei 2026, meningkat dari pertumbuhan 25,3% pada bulan sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar sebesar 25%. 

Baca Juga: Pasokan Minyak Timur Tengah Terganggu, China Tunda Ekspansi Kilang Strategis

Ini merupakan bulan ke-12 berturut-turut pertumbuhan pembelian, didorong oleh permintaan domestik yang kuat meskipun tekanan inflasi meningkat akibat gangguan rantai pasokan dan biaya energi yang tinggi karena perang di Timur Tengah. 

Selama enam bulan pertama tahun ini, impor melonjak 24,5% menjadi US$ 1.261,69 miliar, didorong oleh permintaan yang lebih tinggi dari negara-negara ASEAN (21,0%), Uni Eropa (8,6%), Jepang (27,8%), Hong Kong (173,2%), dan Korea Selatan (56,5%), tetapi turun dari AS (-5,5%). 

Impor peralatan pengolahan data melonjak 65,1%, sementara pembelian semikonduktor dan sirkuit terpadu masing-masing naik 11,5% dan 52,1%. 

Terjadi peningkatan volume pada minyak nabati (24,2%), bijih tembaga (36,7%), minyak olahan (6,74%), logam tanah jarang (40,6%), dan tembaga mentah (26,1%), tetapi terjadi penurunan pada gas alam (-10,1%), batubara (-2,9%), dan baja (-8,5%).