Ekspor Furnitur Tumbuh, Pelaku Industri Waspadai Banjir Produk Asing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri mebel dan kerajinan nasional dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan besar, baik dari sisi ekspor maupun penguatan pasar domestik. Namun di saat yang sama, pelaku industri menghadapi tekanan dari tingginya tarif dagang di pasar utama serta derasnya produk impor murah yang membanjiri pasar dalam negeri.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan bahwa pameran industri seperti Indonesia International Furniture Expo (IFEX) menjadi salah satu motor penting penggerak ekosistem industri, bukan sekadar ajang pamer produk.

“Industri mebel dan kerajinan ini bukan hanya bicara pameran, tetapi ekosistem. Ada jutaan tenaga kerja yang bergantung di dalamnya. Jadi setiap peningkatan ekspor itu dampaknya langsung ke penciptaan lapangan kerja,” ujar Sobur di Bentara Budaya Art Gallery di Jakarta, Selasa (3/2).


Menurut dia, saat ini nilai ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia berada di kisaran US$ 3,4 miliar per tahun. Angka tersebut dinilai masih berpotensi untuk didorong dua kali lipat apabila hambatan perdagangan dapat ditekan dan promosi internasional terus diperkuat.

Baca Juga: Lewat IFEX 2026, Pelaku Industri Bidik Buyer Global Berbasis Desain

Sobur menjelaskan, pameran internasional berkontribusi signifikan terhadap penjualan industri. Transaksi langsung di lokasi pameran biasanya hanya sebagian kecil dari potensi riil yang terjadi setelahnya. 

"Transaksi on the spot memang besar, tapi dalam satu sampai empat bulan setelah pameran biasanya nilainya bisa jauh lebih tinggi karena ada penyesuaian desain dan spesifikasi produk,” katanya.

Meski peluang ekspor terbuka, HIMKI menyoroti tantangan tarif di pasar Amerika Serikat yang menjadi tujuan utama ekspor furnitur Indonesia. Porsi ekspor ke Negeri Paman Sam saat ini mencapai lebih dari separuh total pengiriman nasional.

“Kita diberi tarif cukup tinggi, sehingga harga produk kita menjadi lebih mahal di pasar Amerika. Padahal Amerika Serikat adalah market terbesar kita,” ujarnya.

Selain tarif, tekanan juga datang dari membanjirnya produk impor, terutama dari China, yang masuk ke pasar domestik. Sobur menilai kondisi ini berpotensi menggerus pangsa pasar pelaku industri lokal jika tidak diimbangi kebijakan proteksi dan peningkatan daya saing produk dalam negeri.

Menurutnya, strategi industri tidak bisa hanya bertumpu pada ekspor. Penguatan pasar domestik perlu berjalan beriringan agar ekosistem industri tetap stabil. 

"Kalau ekspor kita tumbuh tapi pasar dalam negeri diambil produk impor, ekosistem kita tetap tertekan. Jadi dua-duanya harus dijaga,” jelasnya.

HIMKI juga menilai pentingnya membangun kebanggaan terhadap produk lokal, khususnya furnitur berbasis rotan dan bambu yang menjadi keunggulan Indonesia. Selama ini, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai identitas desain nasional di pasar domestik.

Dengan kombinasi strategi promosi ekspor, negosiasi tarif dagang, serta penguatan konsumsi produk lokal, HIMKI optimistis industri mebel nasional masih memiliki ruang tumbuh yang besar. Namun tanpa perlindungan pasar dan peningkatan nilai tambah desain, peluang tersebut berisiko tergerus oleh kompetisi global dan banjir impor.

Baca Juga: UBC Medical (LABS) Salurkan Perangkat Medis GP Workstation Bantu Puskesmas di Aceh

Selanjutnya: Waspada Kolesterol Tinggi Mengintai, 5 Jus Ini Bisa jadi Solusi

Menarik Dibaca: Waspada Kolesterol Tinggi Mengintai, 5 Jus Ini Bisa jadi Solusi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News