Ekspor Ikan dan Udang Turun 2,08%



JAKARTA. Nilai ekspor ikan dan udang Indonesia pada Juli 2008 menyusut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor ikan dan udang di bulan Juli hanya US$ 187,6 juta. Angka itu turun 2,08% dibanding bulan sebelumnya yang mencapai US$ 183,7 juta.

Amblesnya ekspor di bulan Juli itu, melengkapi penurunan pada bulan-bulan sebelumnya. Ketua Masyarakat Perikanan Nusantara (MPK) Shidiq Moslim bilang, sepanjang 2008, setiap bulan nilai ekspor ikan dan udang turun sebanyak 12 persen. Ekspor anjlok karena produksi ikan dan udang turun. "Ini juga dampak lanjutan kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Nelayan sulit mendapatkan ikan karena mencari solar sulit,” ujar Shidiq, Selasa (9/9).

Di saat bersamaan, Vietnam menurunkan harga jual produk perikanannya. Langkah produsen perikanan terbesar di Asia ini tentu saja tak memberikan pilihan bagi Indonesia selain ikut memangkas nilai jual. “Sudah volumenya turun, nilai ekspornya pun anjlok,” kata Shidiq.


Mengutip data MPK, setiap tahun produksi ikan dan udang dalam negeri mencapai 352.000 ton. Selama Januari-Juli 2008 ini, produksi ikan dan udang sudah mencapai 187.000 ton. Dari jumlah itu, sebanyak 112.000 ton diekspor.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu menuturkan, ada beberapa penyebab turunnya ekspor ikan dan udang. Pertama, penetapan rapid alert system di Eropa. Kebijakan ini menghambat ekspor produk ikan dan udang Indonesia. Keduanya, adanya virus white spot syndrome, trauma syndrome dan infectious myo necrosis yang terdapat dalam produk ikan Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Test Test