Ekspor Jepang melonjak akibat permintaan China dan AS yang solid



KONTAN.CO.ID - TOKYO.  Ekspor Jepang melonjak pada Juni karena didorong oleh permintaan AS untuk mobil dan pengiriman peralatan pembuat chip ke China. Hal ini menambah harapan pemulihan yang didorong ekspor di negara dengan ekonomi terbesar ketiga dunia.

Mengutip Reuters, ekspor naik 48,6% secara tahunan dan menandai kenaikan dalam empat bulan berturut-turut dengan kenaikan dua digit. Pertumbuhan ekspor tetap kuat bahkan ketika kekurangan chip global membebani produksi dan pengiriman mobil Jepang.

Pertumbuhan ekspor 48,6% mengalahkan prediksi peningkatan 46,2% dalam jajak pendapat Reuters. Peningkatan ini menyusul kenaikan ekspor 49,6% pada Mei yang merupakan peningkatan bulanan paling tajam sejak April 1980.


Dengan melemahnya belanja konsumen karena pembatasan baru virus corona di Tokyo, para pembuat kebijakan mengandalkan permintaan eksternal untuk mengatasi pelemahan tersebut.

Baca Juga: Olimpiade Tokyo memulai pertandingan di tengah kekhawatiran COVID-19

"Ekonomi China mungkin berhenti tetapi langkah-langkah stimulus sedang diambil. Dengan bantuan pemulihan di Eropa dan Amerika, diperkirakan akan meningkat lagi. Itu akan membantu ekspor Jepang tetap dalam tren naik, didukung oleh ekspor mobil serta barang modal dan barang-barang terkait informasi." kata Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute.

Berdasarkan tujuan, ekspor ke China naik 27,7% di tahun ini hingga Juni, dipimpin oleh permintaan peralatan pembuatan chip, bahan mentah, dan plastik. Ekspor ke AS tumbuh 85,5% pada Juni, didorong oleh pengiriman mobil, suku cadang mobil, dan motor.

Baca Juga: China rilis kereta maglev berkecepatan 600 km/jam, kendaraan darat tercepat di Bumi

Impor naik 32,7% di tahun ini hingga Juni, lebih dari perkiraan median untuk kenaikan 29,0%. Neraca perdagangan Jepang mencapai surplus ¥ 383,2 miliar atau setara US$ 3,49 miliar, dibandingkan estimasi median untuk surplus ¥ 460,0 miliar.

Ekonomi Jepang menyusut 3,9% secara tahunan pada Januari-Maret dan kemungkinan hampir tidak tumbuh pada kuartal kedua, karena pandemi berdampak pada pengeluaran sektor jasa.

Baca Juga: Inflasi inti Jepang capai level tertinggi dalam 15 bulan, ini penyebabnya

Editor: Wahyu T.Rahmawati