KONTAN.CO.ID - Kinerja ekspor Jepang masih menunjukkan tren positif. Pada Maret 2026, ekspor Negeri Sakura tumbuh 11,7% secara tahunan (
year on year/YoY), menandai kenaikan selama tujuh bulan berturut-turut. Data tersebut melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 11%, ditopang oleh permintaan global yang solid serta kenaikan harga komoditas. Melansir
Reuters, secara rinci, ekspor Jepang ke Amerika Serikat (AS) naik 3,4% YoY, sementara ekspor ke China melonjak 17,7% YoY.
Baca Juga: Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Sepekan Rabu (22/4), Ragukan Gencatan Senjata Iran Di sisi lain, impor Jepang juga meningkat 10,9% YoY pada Maret, lebih tinggi dari proyeksi pasar sebesar 7,1%. Dengan perkembangan tersebut, Jepang mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar 667 miliar yen atau sekitar US$ 4,18 miliar. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pasar yang mencapai 1,1 triliun yen. Meski penutupan Selat Hormuz sempat mengganggu pasokan energi dari kawasan Teluk dan rantai pasok global, kenaikan harga ekspor masih menopang sektor perdagangan Jepang. Namun, kekhawatiran mulai meningkat di kalangan pelaku industri. Lonjakan harga energi dan gangguan pasokan bahan baku dinilai berpotensi menekan kinerja ekspor ke depan.
Baca Juga: Lebih dari 30 Negara Rapat di London, Susun Misi Pembukaan Selat Hormuz Kelangkaan nafta bahan baku utama industri petrokimia serta material terkait telah memaksa puluhan perusahaan menghentikan sementara pesanan dalam beberapa pekan terakhir, meskipun pemerintah memastikan ketersediaan stok masih mencukupi. Secara umum, perekonomian Jepang masih menunjukkan tanda pemulihan moderat, didukung oleh investasi bisnis yang kuat dan ekspor yang relatif tangguh. Namun, momentum pertumbuhan dinilai belum merata di tengah tekanan eksternal.
Analis mengingatkan, kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah dapat membebani ekonomi Jepang melalui peningkatan biaya impor dan penurunan daya beli rumah tangga, mengingat tingginya ketergantungan negara tersebut pada impor energi.
Baca Juga: Selat Hormuz: 30+ Negara Siapkan Rencana Pembukaan, Apa Artinya? Bank sentral Jepang, Bank of Japan, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini dalam pertemuan kebijakan pekan depan. Meski demikian, otoritas moneter tetap mengadopsi sikap pengetatan seiring pelemahan yen dan kenaikan harga energi yang mendorong tekanan inflasi.