Ekspor Jepang Tumbuh 16,7% pada September 2026, Ditopang Permintaan Chip AI



KONTAN.CO.ID - Ekspor Jepang mencatat pertumbuhan 16,7% secara tahunan pada September 2026, ditopang kuatnya permintaan semikonduktor dan produk terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya dan berada di bawah ekspektasi pasar.

Mengutip Reuters, Rabu (21/10/2026), data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan ekspor September tumbuh 16,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (21/10), Brent ke US$ 109,64 & WTI ke US$ 98,58

Capaian tersebut melanjutkan tren pertumbuhan ekspor selama 13 bulan berturut-turut, setelah meningkat 19,3% pada Agustus 2026.

Meski demikian, realisasi tersebut lebih rendah daripada proyeksi median ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan ekspor Jepang tumbuh 20,1%.

Permintaan global terhadap teknologi kecerdasan buatan masih menjadi penopang utama ekspor Jepang, khususnya untuk semikonduktor dan peralatan pendukungnya.

Selain itu, upaya perusahaan meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen melalui penyesuaian harga turut mendukung nilai ekspor.

Berdasarkan negara tujuan, ekspor Jepang ke Amerika Serikat meningkat 22,9% secara tahunan pada September. Sementara itu, pengiriman barang ke China tumbuh 8,6%.

Dari sisi impor, Jepang mencatat kenaikan sebesar 18,9% secara tahunan pada September. Angka tersebut lebih rendah daripada perkiraan ekonom sebesar 19,6% dan melambat dibandingkan pertumbuhan 28% pada Agustus.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun Rabu (21/10), Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed

Perlambatan impor antara lain dipengaruhi penurunan kedatangan minyak mentah. Sejumlah kapal tanker mengubah rute pelayaran untuk menghindari Selat Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Perubahan rute tersebut menyebabkan keterlambatan pengiriman minyak ke Jepang.

Pemerintah Jepang memperkirakan pengadaan minyak mentah pada Oktober akan pulih hingga sekitar 100% dari tingkat pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pemulihan ini diharapkan terjadi seiring kedatangan kapal tanker yang melintasi Terusan Suez.

Perlambatan impor turut mempersempit defisit perdagangan Jepang menjadi 536,6 miliar yen atau sekitar US$ 3,39 miliar pada September.

Angka tersebut turun dari defisit 1,1 triliun yen pada Agustus, tetapi masih lebih besar daripada perkiraan ekonom yang memproyeksikan defisit sebesar 181 miliar yen.

Data perdagangan tersebut menunjukkan permintaan eksternal masih memberikan dukungan bagi perekonomian Jepang. Namun, ketidakpastian prospek ekonomi global tetap menjadi tantangan bagi kinerja eksportir ke depan.

Baca Juga: Ekspor Korea Selatan Periode 1–20 Oktober 2026 Melonjak 105%, Penjualan Chip Rekor

Pasar juga menantikan pertemuan kebijakan Bank of Japan (BOJ) pada akhir Oktober. Dalam pertemuan tersebut, bank sentral Jepang akan merilis proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi dan inflasi untuk periode kuartalan.

Proyeksi tersebut akan dicermati investor untuk memperkirakan waktu kenaikan suku bunga berikutnya.