KONTAN.CO.ID - MIRITITUBA, BRAZIL. Para sopir truk di Brazil menghadapi keterlambatan yang tidak biasa dalam mengantarkan kedelai ke terminal pelabuhan Miritituba di hutan Amazon. Hal ini terjadi seiring panen kedelai yang mencapai rekor sekitar 180 juta metrik ton, sehingga membanjiri sistem logistik salah satu pusat ekspor utama dunia untuk komoditas tersebut. Keterlambatan dalam distribusi kedelai dari produsen dan eksportir terbesar dunia ini menyoroti tantangan logistik yang terus berlangsung dalam rantai pasok pertanian Brazil. Sebagian besar hasil panen kedelai ditujukan untuk pasar China.
"Ini sungguh memalukan di Miritituba," kata sopir truk Jeferson Borges da Silva, yang harus menunggu dalam antrean sepanjang 30 km setelah menempuh perjalanan 1.200 km dari Mato Grosso. "Kami sudah antre selama dua hari, tahun ini adalah yang terburuk."
Baca Juga: Hadiah Senapan Kim Jong Un Isyaratkan Konsolidasi Kekuasaan Miritituba, sebagai titik transshipment penting, menangani sekitar 12 juta metrik ton biji-bijian setiap tahun, termasuk kedelai dan jagung. Perusahaan seperti Cargill, Bunge, dan Amaggi mengoperasikan terminal sungai di mana hasil panen dimuat ke tongkang untuk transportasi ke fasilitas yang lebih besar, sebelum akhirnya diangkut menggunakan kapal laut. Pada periode ini, arus lalu lintas biasanya memang padat.
Protes Tambah Tekanan pada Ekspor
Kendala industri semakin bertambah setelah aktivis masyarakat adat melakukan invasi ke fasilitas transshipment milik Cargill di Santarem bulan ini, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang hendak melakukan pengerukan dan perluasan kapasitas pengiriman melalui cekungan Amazon. Demonstrasi tersebut mendorong pemerintah pada Senin lalu untuk mencabut sebuah dekrit yang memfasilitasi perluasan jalur air, sehingga menciptakan ketidakpastian bagi eksportir pertanian. "Protes masyarakat adat mungkin turut memperparah kemacetan di Miritituba, karena sopir truk bergegas mencari tempat bongkar muat," ujar sopir Wellington Bressan. "Sopir truk hidup dari komisi, jika mereka bekerja, mereka mendapat penghasilan. Itu sebabnya mereka tidak mau menunggu terlalu lama sebelum datang ke Miritituba," tambahnya.
Baca Juga: AS Dukung Hak Pakistan Membela Diri di Tengah Konflik dengan Taliban Afghanistan Cargill, yang sempat menghentikan operasi sementara di terminal Santarem selama protes, menyatakan pada Kamis bahwa pihaknya sedang berupaya melanjutkan aktivitas. Dalam pernyataan resmi, perusahaan mengapresiasi "ketahanan" karyawan dan menegaskan komitmen untuk mengangkut pangan secara "aman dan andal."
Kekhawatiran Infrastruktur Meningkat
Pencabutan dekrit pemerintah dapat memperlambat upaya peningkatan infrastruktur logistik di koridor ekspor utara, menurut Thiago Pera, pakar logistik dari Universitas São Paulo. Pera memperingatkan adanya dampak jangka menengah dan panjang terhadap kemampuan Brazil dalam menangani ekspor pertanian secara efisien. "Skenario ini semakin menantang," kata Pera, menambahkan bahwa pengerukan sungai di wilayah tersebut dapat memungkinkan pergerakan kapal yang lebih besar sepanjang tahun, mengurangi tekanan pada transportasi truk dan menekan biaya angkut. Saat ini, sekitar 60% ekspor pertanian Brazil masih bergantung pada transportasi truk. Sopir truk seperti Sonia da Silva menyuarakan frustrasi terkait infrastruktur terminal Miritituba yang dinilai ketinggalan zaman. "Bagaimana Anda menampung 1.000 truk di lapangan yang hanya muat 500, atau 200?" ungkapnya.