KONTAN.CO.ID - Kinerja ekspor Korea Selatan mencatat pertumbuhan tahunan tercepat dalam lebih dari empat dekade pada Mei 2026. Lonjakan tersebut didorong oleh rekor penjualan semikonduktor di tengah gelombang investasi global pada kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Aktivitas Manufaktur China Masih Ekspansif pada Mei, Namun Laju Pertumbuhan Melambat Data perdagangan awal yang dirilis pemerintah Korea Selatan pada Senin (1/6/2026) menunjukkan, ekspor negara tersebut melonjak 53,2% secara tahunan (
year on year/YoY) menjadi US$ 87,75 miliar, sekaligus menjadi nilai ekspor bulanan tertinggi sepanjang sejarah. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 48,4% dan menandai bulan ke-12 berturut-turut ekspor Korea Selatan tumbuh secara tahunan. Pertumbuhan tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak Januari 1984, sekaligus menghasilkan surplus perdagangan bulanan terbesar yang pernah dicatat negara itu. "Ini benar-benar laju pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ekspektasi pasar terus meningkat dan data ekspor terus melampaui perkiraan," kata ekonom Meritz Securities, Stephen Lee. Menurutnya, momentum ekspor berpotensi semakin kuat pada kuartal III 2026 dengan pertumbuhan ekspor sepanjang tahun yang bisa mendekati 50%.
Baca Juga: Harga Rumah Australia Mandek pada Mei, Kenaikan Suku Bunga Mulai Tekan Pasar Properti Boom AI Dorong Penjualan Chip ke Rekor Baru Pendorong utama lonjakan ekspor adalah sektor semikonduktor. Ekspor chip melonjak 169,4% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$ 37,16 miliar, rekor tertinggi sepanjang sejarah untuk nilai ekspor bulanan semikonduktor Korea Selatan.
Baca Juga: Lowongan Kerja Australia Naik 1,8% pada Mei, Permintaan Tenaga Kerja Masih Tangguh Kenaikan tersebut didukung oleh:
- Lonjakan harga chip memori
- Meningkatnya investasi AI oleh perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS)
- Permintaan pusat data dan infrastruktur AI yang terus meningkat
Selain itu, ekspor komputer juga meroket 290,7% berkat tingginya permintaan server AI. Sementara ekspor produk minyak bumi naik 46,6% karena harga energi global yang masih tinggi. Di sisi lain, ekspor otomotif turun 5,9% akibat gangguan rantai pasok di Timur Tengah dan dampak tarif impor AS.
Baca Juga: Belanja Modal Perusahaan Jepang Nyaris Mandek pada Kuartal I 2026, Apa Penyebabnya? Ekspor ke China dan AS Melonjak Berdasarkan negara tujuan, ekspor Korea Selatan menunjukkan pertumbuhan kuat ke pasar utama.
- Ekspor ke Amerika Serikat naik 59,1%
- Ekspor ke China melonjak 80,9%
- Ekspor ke kawasan Timur Tengah turun 7,7%
Penurunan pengiriman ke Timur Tengah mencerminkan dampak konflik geopolitik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 2% Senin (1/6) Pagi: Brent ke US$ 93,28 & WTI ke US$ 89,73 Surplus Perdagangan Cetak Rekor Impor Korea Selatan juga meningkat 20,8% menjadi US$ 60,80 miliar, meskipun sedikit di bawah perkiraan ekonom sebesar 21,5%. Dengan pertumbuhan ekspor yang jauh lebih tinggi dibandingkan impor, Korea Selatan membukukan surplus perdagangan sebesar US$ 26,95 miliar, naik dari US$ 23,75 miliar pada bulan sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pasar Saham Ikut Terdorong Data ekspor yang sangat kuat semakin memperkuat optimisme terhadap perekonomian Korea Selatan.
Pekan lalu, bank sentral Korea Selatan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 2,6% dari sebelumnya 2,0%.
Baca Juga: Dolar Stabil Senin (1/6), Menanti Kepastian Konflik Iran dan Arah Suku Bunga The Fed Sementara itu, indeks saham utama KOSPI yang menjadi salah satu bursa berkinerja terbaik di dunia pada tahun ini kembali mencetak rekor tertinggi. Indeks tersebut telah melonjak lebih dari 100% sepanjang 2026, didorong reli saham raksasa chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix yang menikmati lonjakan laba dari booming AI global.